MAMPIR GAN DI LAPAK ANE
Sabtu, 23 April 2011
Menjadi Hamba-Nya yang Bersyukur
Suatu malam Rasulullah Saw meminta izin kepada Aisyah r.a. "Wahai Aisyah, apakah engkau mengizinkanku untuk beribadah kepada Tuhanku malam ini?" Aisyah menjawab, "Aku amat ingin berada di dekatmu, tapi demi cintaku kepada Allah dan kepada engkau, aku ridha ya Rasulullah, "Rasulullah berwudhu dan mengerjakan shalat Tahajud di dekat tempat Aisyah berbaring. Rasulullah menangis sepanjang shalatnya bercucuran air mata. Ketika berdiri Rasulullah menangis. Ketika ruku Rasulullah menangis. Demikian juga ketika sujud sampai akhir salamnya. Ketika selesai,azan subuh berkumandang. Rasulullah masih menangis. Aisyah bertanya: "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Allah dengan surga-Nya dan engkau selalu terbebas dari segala dosa kecil maupun besar?" "Benar ya Aisyah," jawab Rasulullah. "mengapa engkau masih menangis ya Rasulullah?" "Telah turun kepadaku wahyu yang begitu indah." Lalu Rasulullah membaca Qs Ali Imran (3) : 190-191, "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka mempunyai akal (hati nurani). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau keadaan berbaring dan mereka selalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia. Mahasuci Engkau Ya Rabb, maka peliharalah kami dari siksaan api neraka." Setelah membaca ayat ini, Rasulullah Saw berkata kepada Aisyah r.a., "Tidak pantaskah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?" (HR Bukhari)
Hamba yang Mendapat Cinta-Nya
"Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu ke sisi Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka mereka itu memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka lakukan dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)." (QS SABA' [34]: 37)
Ayat yang agung ini ingin menyampaikan pesan bahwa saat mengaruniakan harta dan anak pada kita, Allah tidak sedang memberi penghargaan kepada kita. Allah pun tidak sedang menujukan keridhaan-Nya atas apa yang kita perbuat. Harta dan anak-anak yang Allah anugerahkan itu adalah nikmat sekaligus ujian. Oleh sebab itu, adanya harta dan anak tidak otomatis membuat kita menjadi dekat pada Allah Swt.
Allah ingin membantah para pendurhaka yang merasa nyaman dan mapan dengan harta dan anak-anak yang selalu ada didekat mereka. Mereka pikir itulah yang akan menyelamatkan hidup mereka. Mereka pikir itulah yang akan menyertai mereka menghadap Allah kelak hingga tidak sedikit pun waktu yang terlewat selain untuk mengurusi harta dan anak-anak. Sebanyak-banyaknya harta mereka tumpuk. Apa saja yang mereka lakukan, bahkan yang haram sekali pun, demi anak-anak mereka. Padahal tidak demikian kenyataannya.
Hanya iman yang mewujud pada amal saleh yang akan menyelamatkan mereka. Iman akan melahirkan kecintaan kepada Allah Swt. Amal saleh adalah bukti dari kecintaannya itu. Seorang hamba tunduk patuh akan selalu memahami bahwa harta baginya sarana untuk dibelanjakan di jalan Allah Swt. Demikian juga anak yang Allah amanahkan kepadanya. Ia akan memelihara dan membesarkannya dengan tuntunan agama Allah Swt yang agung. Semua yang ia lakukan hanya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah Swt. Itulah yang akan menjaminnya mendapar ridha Allah Swt.
Di dalam hadis Qudsi Allah berkata, "Siapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka ia telah menyatakn perang dengan-Ku! Tidaklah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku selain dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan tiada henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang aku sunahkan sehingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarnya yang denganya ia mendengar, Aku akan menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang, dan Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku penuhi permintaannya dan jika ia meminta perlindungan-Ku pasti Aku melindunginya." (HR Bukhari)
Ayat yang agung ini ingin menyampaikan pesan bahwa saat mengaruniakan harta dan anak pada kita, Allah tidak sedang memberi penghargaan kepada kita. Allah pun tidak sedang menujukan keridhaan-Nya atas apa yang kita perbuat. Harta dan anak-anak yang Allah anugerahkan itu adalah nikmat sekaligus ujian. Oleh sebab itu, adanya harta dan anak tidak otomatis membuat kita menjadi dekat pada Allah Swt.
Allah ingin membantah para pendurhaka yang merasa nyaman dan mapan dengan harta dan anak-anak yang selalu ada didekat mereka. Mereka pikir itulah yang akan menyelamatkan hidup mereka. Mereka pikir itulah yang akan menyertai mereka menghadap Allah kelak hingga tidak sedikit pun waktu yang terlewat selain untuk mengurusi harta dan anak-anak. Sebanyak-banyaknya harta mereka tumpuk. Apa saja yang mereka lakukan, bahkan yang haram sekali pun, demi anak-anak mereka. Padahal tidak demikian kenyataannya.
Hanya iman yang mewujud pada amal saleh yang akan menyelamatkan mereka. Iman akan melahirkan kecintaan kepada Allah Swt. Amal saleh adalah bukti dari kecintaannya itu. Seorang hamba tunduk patuh akan selalu memahami bahwa harta baginya sarana untuk dibelanjakan di jalan Allah Swt. Demikian juga anak yang Allah amanahkan kepadanya. Ia akan memelihara dan membesarkannya dengan tuntunan agama Allah Swt yang agung. Semua yang ia lakukan hanya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah Swt. Itulah yang akan menjaminnya mendapar ridha Allah Swt.
Di dalam hadis Qudsi Allah berkata, "Siapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka ia telah menyatakn perang dengan-Ku! Tidaklah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku selain dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan tiada henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang aku sunahkan sehingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarnya yang denganya ia mendengar, Aku akan menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang, dan Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku penuhi permintaannya dan jika ia meminta perlindungan-Ku pasti Aku melindunginya." (HR Bukhari)
Senin, 18 April 2011
Hamba yang Mendapat Lindungan-Nya
Tidak ada yang kita nantikan selain lindungan Allah Swt saat Hari Kiamat maha dahsyat tiba. Allah Swt berjanji akan melindungi hamba-hamba-Nya yang tunduk patuh kepada perintah-Nya dan berusaha untuk menjauhi larangan-Nya, serta mencintai-Nya dengan tulus. Dalam suatu kesempatan, Rasulullah Saw menjelaskan siapa saja hamba-hamba Allah Swt, yang akan memperoleh lindungan di saat Hari Kiamat nanti itu.
"Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan (lindungan) Allah pada Hari Kiamat kelak, saat tidak ada perlindungan selain perlindungan Allah Swt (mereka adalah):
"Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan (lindungan) Allah pada Hari Kiamat kelak, saat tidak ada perlindungan selain perlindungan Allah Swt (mereka adalah):
- Pemimpin yang adil.
- Pemuda yang tumbuh dalam keadaan senantiasa beribadah kepada Allah Swt.
- Seseorang yang hatinya senantiasa tertanbat dengan masjid.
- Dua orang sahabat yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah semata.
- seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh wanita cantik dan memiliki kekuasaan, ia menolaknya dan berkata, "Sesungguhnya aku takut kepada Allah Swt".
- Seseorang yang bersedekah sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya.
- Seseorang yang mengingat Allah Swt di tempat yang sepi sampai meneteskan air mata karana rindu kepada Allah Swt.
Jumat, 01 April 2011
Kepasrahan Yang Tulus
Di depan sahabat-sahabatnya sebelum berhijrah, Rasulullah Saw menyampaikan pesan, "Malaikat datang kepadaku dan menyampaikan bahwa Allah 'Azza wa Jalla menawarkan untuk mengubah seluruh batu yang ada di bukit-bukit sekeliling kota Mekah menjadi emas untukku. Lalu aku menjawab, "Tidak, ya Tuhanku, cukup bagiku agar merasakan lapar pada satu hari dan merasakan kenyang pada satu hari lainnya, sehingga aku bisa merendahkan diriku di hadapan-Mu saat aku lapar, serta bersyukur dan memuji-Mu ketika aku merasa kenyang." (HR At-Tirmidzi).
Sebuah ketulusan yang luar biasa diucapkan oleh seorang hamba kekasih Allah 'Azza wa Jalla. Allahuma Shalli 'ala Muhammad. Tak ada rasa gentar menghadapi kesulitan hidup. Tak ada rasa ingin menikmati hidup secara berlebihan. Itulah yang tersirat dari ucapan tulus dari seorang manusia mulia. Rasulullah Saw.
Lihatlah diri kita. Sanggupkah dari bibir kita keluar ucapan setulus dan sedalam itu? Bukankah selalu yang kita inginkan hanyalah memperoleh kenikmatan di dunia ini? Tidakah saat sedikit saja kesusahan menghampiri, kita bermuram durja dan selalu menyalahkan orang lain? itulah kita. Amat wajar kalau kitalah yang mesti meneladani Beliau, manusia sempurna (Insan Kamil) yang sempat Allah Swt ciptakan untuk kita tiru prilakunya.
Selalu akan ada dua jalan yang ditempuh manusia dalam hidupnya: pasarah pada keinginan nafsu atau pasrah pada kehendak Allah Swt. Bila jalan pertama yanng dipilih, maka di sana yang menjadi panglima adalah keinginan menumpik harta, meraih kekuasaan, mengejar popularitas, dan mengumbar segala keinginan nafsu. Sementara kalau jalan kedua yang dipilih, maka Allah-lah yang selalu menjadi panglima hidupnya
Menjalani hidup penuh kepasrahan kepada Allah Swt menerima apapun yang menjadi ketentuan-Nya, adalah sebuah pilihan yang sangat tepat. Namun sering kali kepasrahan ini dilakukan karena memang tidak ada alternatif lain selain pasrah. Kepasrahan semacam ini sudah tentu tidak akan berefek pada kejenuhan batin dan kesucian jiwa yang akan menjadi tempat bersemayamnya Allah Swt sebab, Rasulullah Saw memilih jalan kehidupan yang ke dua ini dalam keadaan sanggup dan pantas untuk memperoleh segala yang ada pada jalan yang pertama.
Seorang ulama klasik kenamaan, Sufyan Ats-Tsauri, suatu ketika kedatangan seorang muridnya dan bertanya, "Wahai Imam, aku ingin agar Allah ridha kepadaku; apa yang harus aku lakukan?" Sufyan menjawab, "Jika engkau ridha kepada Allah Swt, niscaya Dia akan ridha kepadamu." "Tapi bagaimana caranya?" Tanya sang murid lagi. Sufyan menjelaskan, "senanglah terhadap musibah sebagaimana senangnya engkau terhadap nikmar Allah. Sebab keduanya merupakan takdir yang telah ditetapkan Allah atasmu."
Sebuah ketulusan yang luar biasa diucapkan oleh seorang hamba kekasih Allah 'Azza wa Jalla. Allahuma Shalli 'ala Muhammad. Tak ada rasa gentar menghadapi kesulitan hidup. Tak ada rasa ingin menikmati hidup secara berlebihan. Itulah yang tersirat dari ucapan tulus dari seorang manusia mulia. Rasulullah Saw.
Lihatlah diri kita. Sanggupkah dari bibir kita keluar ucapan setulus dan sedalam itu? Bukankah selalu yang kita inginkan hanyalah memperoleh kenikmatan di dunia ini? Tidakah saat sedikit saja kesusahan menghampiri, kita bermuram durja dan selalu menyalahkan orang lain? itulah kita. Amat wajar kalau kitalah yang mesti meneladani Beliau, manusia sempurna (Insan Kamil) yang sempat Allah Swt ciptakan untuk kita tiru prilakunya.
Selalu akan ada dua jalan yang ditempuh manusia dalam hidupnya: pasarah pada keinginan nafsu atau pasrah pada kehendak Allah Swt. Bila jalan pertama yanng dipilih, maka di sana yang menjadi panglima adalah keinginan menumpik harta, meraih kekuasaan, mengejar popularitas, dan mengumbar segala keinginan nafsu. Sementara kalau jalan kedua yang dipilih, maka Allah-lah yang selalu menjadi panglima hidupnya
Menjalani hidup penuh kepasrahan kepada Allah Swt menerima apapun yang menjadi ketentuan-Nya, adalah sebuah pilihan yang sangat tepat. Namun sering kali kepasrahan ini dilakukan karena memang tidak ada alternatif lain selain pasrah. Kepasrahan semacam ini sudah tentu tidak akan berefek pada kejenuhan batin dan kesucian jiwa yang akan menjadi tempat bersemayamnya Allah Swt sebab, Rasulullah Saw memilih jalan kehidupan yang ke dua ini dalam keadaan sanggup dan pantas untuk memperoleh segala yang ada pada jalan yang pertama.
Seorang ulama klasik kenamaan, Sufyan Ats-Tsauri, suatu ketika kedatangan seorang muridnya dan bertanya, "Wahai Imam, aku ingin agar Allah ridha kepadaku; apa yang harus aku lakukan?" Sufyan menjawab, "Jika engkau ridha kepada Allah Swt, niscaya Dia akan ridha kepadamu." "Tapi bagaimana caranya?" Tanya sang murid lagi. Sufyan menjelaskan, "senanglah terhadap musibah sebagaimana senangnya engkau terhadap nikmar Allah. Sebab keduanya merupakan takdir yang telah ditetapkan Allah atasmu."
Rabu, 30 Maret 2011
Rindu Melihat Wajah-Nya
Suatu malam Rasulullah bersama sahabat-sahabatnya sedang berada di luar kota Madinah. Bulan purnama terlihat jelas. Nabi Saw menatapnya sambil berkata
Dalam sebuah perjalanan bersama sahabat-sahabatnya, Rasulullah menceritakan segala kebesaran dan keagungan Allah 'Azza wa Jalla. Salah seorang sahabat bertanya,
"Kamu akan melihat wajah Tuhanmu sebagaimana kamu melihat bulan itu, tidak silau memandangnya dan tidak pula terhalang karena sesuatu. Sedapat mungkin kamu mmelakukan salat sebelum terbit matahari (subuh) dan sebelum terbenamnya (ashar).Cepatlah kamu kerjakan." (HR Muslim)
Dalam sebuah perjalanan bersama sahabat-sahabatnya, Rasulullah menceritakan segala kebesaran dan keagungan Allah 'Azza wa Jalla. Salah seorang sahabat bertanya,
"Ya Rasulullah bagaimana cara mendapatkan cinta Allah 'Azza wa Jalla? Rasulullah menjawab, "Allah 'Azza wa Jalla mendatangiku (dalam mimpi) dan mengajarkan kepadaku suatu doa: Ya Muhammad ucapkanlah: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon cinta-Mu, dan cinta hamba yang mencintai-Mu, dan ajarkan aku amal saleh yang mengantarkan aku untuk memperoleh cinta-Mu." (HR Ibnu Khuzaimah, Ath-Thabrani, Ahmad, Al-Hakim, At-Tirmidzi)
Engkau Bersama Orang Yang Engkau Cintai
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon cinta-Mu, dan ajari aku amal yang saleh yang mengantarkan aku untuk memperoleh cinta-Mu." (HR Ibnu Khuzaimah, Ath-Thabrani, Ahmad, Al-Hakim, At-Tirmidzi)
Anas bin Malik r.a. menceritakan, "Ketika aku dan Rasulullah Saw keluar dari masjid, kami bertemu dengan seorang laki-laki di pintu masjid. Pria itu bertanya,
"Wahai Rasulullah! Kapankah hari kiamat terjadi?" Rasul menjawab, "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambutnya?" Laki-laki itu terdiam sebentar, lalu menjawab, "Wahai Rasulullah! Aku tidak mempunyai banyak persiapan amal, baik itu salat, puasa, maupun sedekah. Tapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya." Kemudian Rasulullah bersabda, "Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai."(HR Bukhari dan Muslim)
Sebuah pernyataan dari Rasulullah Saw yang amat membahagiakan. Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya yang melekat di dalam hati seorang hamba akan mengganti kekurangan amalnya dan menempatkannya pada derajat yang tinggi. Terlebih lagi amal seseorang cenderung sering dihinggapi penyakit: riya, takabur, ujub, dan cepat ingin memperoleh balasan. Hanya kecintaan yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya yang dapat menepis segala penyakit-penyaki itu.
Seseorang yang mencintai Allah 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nya akan merasakan kelezatan iman dan kenikmatan hidup dalam ridha-Nya dalam keadaan sempit atau lapang. Saat sempit dan susah, seorang hamba akan bersabar atas kesempitannya dan kesusahannya; dan ketika lapang, tak pernah ia lupa bersyukur atas apa yang ia dapatkan.
Cinta dan amal bukanlah dua hal yang terpisah. Justru cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus dibuktikan dengan amal yang dilakukannya. Mungkinkah kita mencintai Allah SWT tapi kita membangkang terhadap perintah salat yang diwajibkan? Demikian juga sebaliknya, setiap amal yang dilakukantanpa diiringi rasa cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya bagaikan kehidupan tanpah ruh. Hambar dan tidak berarti.
"Katakanlah (Muhammad): Jikalau bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, pasangan-pasangan hidupmu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS At-Taubah [9]: 24)
Minggu, 27 Maret 2011
Jatuh Cinta
Aku simpan cintaku sehingga engkau menderita karena sikapku
Mereka mencelamu dan celaan mereka adalah aniaya
Musuh-musuhmu menghasut
Engkau mencintai dan telah menjadi bahan gunjingan
Tak ada manfaatnya menyimpan cinta
Engkau bagai harimau betina yang mati kepayahan
Pada bekas tapak Hindun atau bagaikan bibir yang sakit
Aku menjauhi kekasih karena takut dosa
Padahal menjauhi kekasih adalah dosa
Rasakanlah bagaimana (rasanya) menjauhi kekasih yang kau sangka
Bahwa itu tindakan bijaksana padahal mungkin itu bohong
(Sebuah syair dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, salah satu dari tujuh orang
ulama ahli fiqh dari kalangan tabi’in (fuqaha assab’ah), salah seorang guru utama Khalifah
Umar bin Abdul Aziz, seorang ulama yang produktif menulis syair, yang pernah jatuh cinta)
Penjelasan :
Menjaga perasaan kepada lawan jenis merupakan kunci kesuksesan seseorang agar terpelihara harga dirinya. Meskipun sama-sama saling menyukai, apabila merasa belum siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, hendaknya perasaan itu kita tutup rapat-rapat. Meskipun kita tahu, keduanya sebenarnya saling mengharapkan. Di saat seperti ini, segala bentuk qorinah / tanda, apakah itu berupa perhatian, pemberian, dsb, hendaknya kita maknai dengan pemaknaan yang sewajar-wajarnya.
Seseorang yang mengumbar perasaan cintanya, hanya akan menjadi bahan gunjingan orang-orang di sekitarnya. Apakah hubungannya itu dapat berlanjut ke jenjang pernikahan, maupun apabila hubungan tersebut gagal menuju tangga pernikahan, sama-sama merupakan sumber gunjingan yang paling enak.
Di sisi yang lain, menyimpan perasaan kepada lawan jenis yang begitu mendalam akan merusak jiwa seseorang, karena ingatannya tidak bisa lepas darinya. Alangkah baiknya apabila kecederungan tersebut segera kita wujudkan dalam bentuk ikatan pernikahan
sebagaimana sebuah hadits menyatakan, ”Tidak ada yang terbaik bagi dua orang yang saling mencintai kecuali menikah.” (HR. Ibnu Majah)
Sedangkan menunda-nunda ikatan pernikahan saat hati sudah tertambat pada diri seseorang, atau berusaha menghindar terhadap seseorang yang kita sukai merupakan bentuk penyiksaan batin yang lain, seperti seekor kucing yang dijauhkan dari makanan yang baru ditemuinya. Ia merasa begitu kehilangan, karena dijauhkan dari sesuatu yang selama ini ia harapkan. So, segera pastikan, cari sebuah jawaban, kunjungi orang tuanya, tentukan tanggal pelaksanaan. Insya Allah hati akan menjadi tentram. Wallauhu’alam bishshowab.
Mereka mencelamu dan celaan mereka adalah aniaya
Musuh-musuhmu menghasut
Engkau mencintai dan telah menjadi bahan gunjingan
Tak ada manfaatnya menyimpan cinta
Engkau bagai harimau betina yang mati kepayahan
Pada bekas tapak Hindun atau bagaikan bibir yang sakit
Aku menjauhi kekasih karena takut dosa
Padahal menjauhi kekasih adalah dosa
Rasakanlah bagaimana (rasanya) menjauhi kekasih yang kau sangka
Bahwa itu tindakan bijaksana padahal mungkin itu bohong
(Sebuah syair dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, salah satu dari tujuh orang
ulama ahli fiqh dari kalangan tabi’in (fuqaha assab’ah), salah seorang guru utama Khalifah
Umar bin Abdul Aziz, seorang ulama yang produktif menulis syair, yang pernah jatuh cinta)
Penjelasan :
Menjaga perasaan kepada lawan jenis merupakan kunci kesuksesan seseorang agar terpelihara harga dirinya. Meskipun sama-sama saling menyukai, apabila merasa belum siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, hendaknya perasaan itu kita tutup rapat-rapat. Meskipun kita tahu, keduanya sebenarnya saling mengharapkan. Di saat seperti ini, segala bentuk qorinah / tanda, apakah itu berupa perhatian, pemberian, dsb, hendaknya kita maknai dengan pemaknaan yang sewajar-wajarnya.
Seseorang yang mengumbar perasaan cintanya, hanya akan menjadi bahan gunjingan orang-orang di sekitarnya. Apakah hubungannya itu dapat berlanjut ke jenjang pernikahan, maupun apabila hubungan tersebut gagal menuju tangga pernikahan, sama-sama merupakan sumber gunjingan yang paling enak.
Di sisi yang lain, menyimpan perasaan kepada lawan jenis yang begitu mendalam akan merusak jiwa seseorang, karena ingatannya tidak bisa lepas darinya. Alangkah baiknya apabila kecederungan tersebut segera kita wujudkan dalam bentuk ikatan pernikahan
sebagaimana sebuah hadits menyatakan, ”Tidak ada yang terbaik bagi dua orang yang saling mencintai kecuali menikah.” (HR. Ibnu Majah)
Sedangkan menunda-nunda ikatan pernikahan saat hati sudah tertambat pada diri seseorang, atau berusaha menghindar terhadap seseorang yang kita sukai merupakan bentuk penyiksaan batin yang lain, seperti seekor kucing yang dijauhkan dari makanan yang baru ditemuinya. Ia merasa begitu kehilangan, karena dijauhkan dari sesuatu yang selama ini ia harapkan. So, segera pastikan, cari sebuah jawaban, kunjungi orang tuanya, tentukan tanggal pelaksanaan. Insya Allah hati akan menjadi tentram. Wallauhu’alam bishshowab.
Langganan:
Postingan (Atom)