MAMPIR GAN DI LAPAK ANE

Sabtu, 14 Januari 2012

Misteri Dibalik Air Zam Zam

Misteri air zam zam – Air zam-zam banyak sekali khasiatnya dan mempunyai berbagai misteri. Tak tak banyak yang tahu bagaimana caranya sumur zam-zam bisa mengeluarkan puluhan juta liter pada satu musim haji, tanpa pernah kering satu kali pun. Seorang peneliti pernah diperintahkan raja Faisal menyelidiki sumur zam-zam untuk menjawab tuduhan kotor seorang dokter dari Mesir.
Di Mekah kita tak perlu khawatir dengan air minum. Di setiap sudut masjidil Haram kita bisa menemukan air zam zam, lengkap dengan cangkir sekali pakainya. Tinggal pijit, langsung bisa diminum, dan gratis lagi. Di area Masjidilharam, di tempat tawaf, tempat sai, di halaman masjid selalu tersedia air yang berkhasiat ini. Ketika pulang dari Masjidilharam, banyak jamaah mengisi dulu botol airnya dengan zamzam lalu ditenteng ke pemondokan. Lumayan, menghemat uang Real, tak perlu belanja air mineral atau memasak air di dapur.

Berapa Juta Liter air zamzam?

Berapa banyak air zam-zam yang di kuras setiap musim haji? Mari kita hitung secara sederhana. Jamaah haji yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia pada setiap musim haji dewasa ini berjumlah sekitar dua juta orang. Semua jemaah diberi 5 liter air zam-zam ketika pulang nanti ke tanah airnya. Kalau 2 juta orang membawa pulang masing-masing 5 liter zam-zam ke negaranya, itu saja sudah 10 juta liter. Disamping itu selama di Mekah, kalau saja jamaah rata-rata tinggal 25 hari, dan setiap orang menghabiskan 1 liter sehari, maka totalnya sudah 50 juta liter !!. Ini hanya gambaran saja, betapa luar biasanya air zamzam ini dikonsumsi manusia, tanpa pernah kering!
Itulah salah satu keanehannya. Puluhan juta liter air bisa keluar dari sumur di Mekah ini yang letaknya di tengah padang pasir yang kering. Daerah gurun yang hujannya saja cuma 2 kali setahun. Dan air itu keluar dari sumur air yang hanya seukuran sekitar 5 x 4 meter sedalam 40an meter, bukan dari bendungan seukuran Waduk Ombo misalnya. Allahu akbar.

Keanehan air Zamzam

Pada tahun 1971, seorang doktor dari negeri Mesir mengatakan kepada Press Eropah bahwa air Zamzam itu tidak sehat untuk diminum. Asumsinya didasarkan bahwa kota Mekah itu ada di bawah garis permukaan laut. Air Zamzam itu berasal dari air sisa buangan penduduk kota Mekah yang meresap, kemu dian mengendap terbawa bersama-sama air hujan dan keluar dari sumur Zamzam. Masya Allah.
Tentu saja ini merupakan prasangka buruk yang merugikan dunia Islam. Berita ini sampai ke telinga Raja Faisal yang amat marah mendengarnya. Beliau lalu memerintahkan Mentri Pertanian dan Sumber Air untuk menyelidiki masalah ini, dan mengirimkan sampel air Zamzam ke Laboratorium-laboratorium di Eropah untuk ditest.
Tariq Hussain, insinyur kimia yang bekerja di Instalasi Pemurnian Air Laut untuk diminum, di Kota Jedah, mendapat tugas menyelidikinya. Pada saat memulai tugasnya, Tariq belum punya gambaran, bagaimana sumur Zamzam bisa menyimpan air yang begitu banyak seperti tak ada batasnya.

Hanya Sumur kecil

Ketika sampai di dalam sumur, Tariq amat tercengang ketika menyaksikan bahwa ukuran “kolam” sumur itu hanya 18 x 14 feet saja (Kira-kira 5 x 4 meter). Tak terbayang, bagaimana caranya sumur sekecil ini bisa mengeluarkan jutaan galon air setiap musim hajinya. Dan itu berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu, sejak zaman Nabi Ibrahim AS.
Tariq mulai mengukur kedalaman air sumur. Dia minta asistennya masuk ke dalam air. Ternyata air sumur itu hanya mencapai sedikit di atas bahu pembantunya yang tinggi tubuhnya 5 feet 8 inci. Lalu dia menyuruh asistennya untuk memeriksa, apakah mungkin ada cerukan atau saluran pipa di dalamnya. Setelah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, ternyata tak ditemukan apapun!.
Dia berpikir, mungkin saja air sumur ini disuppli dari luar melalui saluran pompa berkekuatan besar. Bila seperti itu keja dian nya, maka dia bisa melihat turun-naiknya permukaan air secara tiba-tiba. Tetapi dugaan inipun tak terbukti. Tak ditemukan gerakan air yang mencurigakan, juga tak ditemukan ada alat yang bisa mendatangkan air dalam jumlah besar.
Selanjutnya Dia minta asistennya masuk lagi ke dalam sumur. Lalu menyuruh berdiri, dan diam ditempat sambil mengamati sekelilingnya. Perhatikan dengan sangat cermat, dan laporkan apa yang terjadi, sekecil apapun. Setelah melakukan proses ini dengan cermat, asistennya tiba-tiba mengacungkan kedua tanganya sambil berteriak: Alhamdulillah, Saya temukan dia! Pasir halus menari-nari di bawah telapak kakiku. Dan air itu keluar dari dasar sumur.
Lalu asistennya diminta berputar mengelilingi sumur ketika tiba saat pemompaan air (untuk dialirkan ke tempat pendistribusian air) berlangsung. Dia merasakan bahwa air yang keluar dari dasar sumur sama besarnya seperti sebelum periode pemompaan. Dan aliran air yang keluar, besarnya sama di setiap titik, di semua area. Ini menyebabkan permukaan sumur itu relatif stabil, tak ada guncangan yang besar
Seusai pengamatan itu, Tariq mengirimkan sampel air ke beberapa laboratorium di Eropah dan sebagian ke laboratorium di Saudi. Dan sebelum meninggalkan Kabah, dia berpesan kepada petugas di Mekah untuk menyelidiki keadaan sumur lainnya di sekitar Kabah.
Sesampainya di kantornya di Jedah, dia mendapat laporan bahwa sumur-sumur lain di sekitar Mekah dalam keadaan kering. Jadi hanya sumur Zamzam yang penuh air. Allahu Akbar. Jika Allah menghendaki, apapun bisa terjadi.

Mengandung zat Anti Kuman.

Hasil penelitian sampel air di Eropah dan Saudi Arabia menunjukkan bahwa Zamzam mengandung zat fluorida yang punya daya efektif membunuh kuman, layaknya seperti sudah mengandung obat. Lalu perbedaan air Zamzam dibandingkan dengan air sumur lain di kota Mekah dan Arab sekitarnya adalah dalam hal kuantitas kalsium dan garam magnesium. Kandungan kedua mineral itu sedikit lebih banyak pada air zamzam. Itu mungkin sebabnya air zamzam membuat efek menyegarkan bagi jamaah yang kelelahan. Tambahan lagi, hasil laboratorium Eropah menunjukkan bahwa zamzam layak untuk diminum, sehat untuk diminum. Ini otomatis menjawab prasangka buruk doktor di awal tulisan tadi.
Keistimewaan lain, komposisi dan rasa kandungan garamnya selalu stabil, selalu sama dari sejak terbentuknya sumur ini. Rasanya selalu terjaga, diakui oleh semua jemaah haji dan umrah yang selalu datang tiap tahun. Tak pernah ada yang complain. Dan Air zamzam ini tak pernah dicampur bahan kimia apapun seperti layaknya air PAM kita. Murni air sehat.
Satu kehebatan lagi, sumur air zamzam tak pernah ditumbuhi lumut, padahal di seluruh dunia sumur itu selalu ditumbuhi lumut dan tumbuhan mikroorganisme.

Bisa Menyembuhkan Penyakit.

Diriwayatkan dalam Sahih Muslim, Nabi bertanya kepada Abu Dzarr, yang telah tinggal selama 30 hari siang malam di sekitar Kabah tanpa makan-minum, selain Zamzam. Siapa yang telah memberimu makan?. Saya tidak punya apa-apa kecuali air Zamzam ini, tapi saya bisa gemuk dengan adanya gumpalan lemak di perutku Abu Dzarr menjelaskan, Saya juga tidak merasa lelah atau lemah karena lapar, dan tak menjadi kurus. Tambah Abu Dzarr. Lalu Nabi saw menjelaskan: Sesungguhnya, Zamzam ini air yang sangat diberkahi, ia adalah makanan yang mengandung gizi.
Nabi saw menambahkan: Air zamzam bermanfaat untuk apa saja yang diniatkan ketika meminumnya. Jika engkau minum dengan maksud agar sembuh dari penyakitmu, maka Allah menyembuhkannya. Jika engkau minum dengan maksud supaya merasa kenyang, maka Allah mengenyangkan engkau. Jika engkau meminumnya agar hilang rasa hausmu, maka Allah akan menghilangkan dahagamu itu. Ia adalah air tekanan tumit Jibril, minuman dari Allah untuk Ismail. (HR Daruqutni, Ahmad, Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas).
Rasulullah saw pernah mengambil air zamzam dalam sebuah kendi dan tempat air dari kulit, kemu dian membawanya kembali ke Madinah. Air zamzam itu digunakan Rasulullah saw untuk memerciki orang sakit dan kemu dian disuruh meminumnya. Itu sebabnya saat ini banyak jamaah yang membawa air zamzam untuk diberikan kepada famili dan kerabatnya di Tanah air.
Yusria Abdel-Rahman Haraz dari negeri Arab, mengatakan bahwa ia terserang penyakit bisul di matanya. Sakitnya bukan main, tak bisa disembuhkan dengan obat. Dia hampir mendekati buta. Seorang dokter terkenal menasehati dia untuk diinjeksi dengan obat khusus, yang mungkin bisa menyembuhkan sakitnya. Tapi ternyata ada efek sampingannnya yang bisa membuat dia buta selamanya.
Yusria sangat yakin akan kemurahan Allah. Dia lalu pergi melaksanakan umrah dan memohon kepada Allah menyembuhkan penyakitnya. Di Baitullah dia melakukan tawaf, yang saat itu tak terlalu padat dengan manusia. Dia lalu bisa tinggal lebih lama di lokasi air zamzam. Dia manfaatkan untuk terus membasuh kedua matanya yang sakit. Ketika dia kembali ke hotel, aneh, kedua matanya yang sakit menjadi sembuh, dan bisulnya berangsur hilang.
Keja dian ini membuktikan ucapan Rasulullah saw di atas: Air zamzam bermanfaat untuk apa saja yang diniatkan ketika meminumnya. Jika engkau minum dengan maksud agar sembuh dari penyakitmu, maka Allah menyembuhkannya.
Sumber Misteri Dibalik Air Zam Zam kaskus.us

Selasa, 27 Desember 2011

Dialog Bayi Dengan Allah Sebelum Lahir Ke Dunia

Suatu ketika, seorang bayi siap dilahirkan ke dunia. Menjelang dikeluarkan ke alam dunia, dia bertanya kepada Tuhan yang menciptakannya:


Bayi: “Tuhan, para malaikat di sini mengatakan bahwa besok aku akan dilahirkan ke dunia. Tetapi, bagaimana caranya aku hidup di sana? Aku begitu kecil dan lemah.”

Tuhan: “Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan selalu menjaga dan menyayangimu setiap saat.”

Bayi: “Tapi aku sudah betah di surga ini, apa yang kulakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa, ini cukup bagiku untuk bahagia.”

Tuhan: “Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan lebih berbahagia.”

Bayi: “Apa yang dapat kulakukan kalau aku ingin berbicara padamu?”

Tuhan: “Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa.”

Bayi: “Aku mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungiku Tuhan”?

Tuhan: “Malaikatmu akan melindungimu dengan taruhan jiwa raganya.”

Bayi: “Tapi aku akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi.”

Tuhan: “Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku selalu berada di sisimu.”

Saat itu surga begitu tenangnya … sehingga suara dari bumi pun dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya:

Bayi: “Tuhan… jika aku harus lahir ke dunia sekarang, bisakah Engkau memberitahuku, siapa nama malaikat di rumahku itu nanti”?

Tuhan: “Kamu akan memanggil malaikatmu itu dengan sebutan: I… B… U …”
 
Kenanglah ibu yang menyayangimu. Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau jauh darinya. Ingatkah engkau ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu?
Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu? Dan ingatkan engkau ketika air mata menitis dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit. Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan. Kembalilah dan mohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu. Jangan biarkan kau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang ketika ibu telah tiada. Tak ada lagi di depan pintu yang menyambut kita, tak ada lagi senyuman indah tanda bahagia, yang ada hanyalah kamar kosong tiada penghuninya … yang ada hanyalah baju yang digantung di lemarinya… Tak ada lagi … dan tak akan ada lagi … yang akan meneteskan air mata mendo’akanmu disetiap hembusan nafasnya.

Pulang..dan kembalilah segera … peluklah ibu yang selalu menyayangimu … Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya..
 

Sabtu, 26 November 2011

Kalimat Pengusir Maksiat

Seorang ulama terkemuka, Imam Sahl bin Abdulalah Al-Tastari menuturkan kisah dirinya, "ketika berumur tiga tahun, aku ikut pamanku yaitu Muhammad bin Sanwar untuk melakukan qiyamullail. Aku melihat cara shalat pamanku dan aku menirukan gerakannya.

Suatu hari, paman berkata kepadaku, 'Apakah kau mengingat Allah, yang menciptakanmu?'

Aku menukas, 'Bagaimana caranya aku mengingatnya?

Beliau menjawab, 'Anakku, jika kau berganti pakaian dan ketika hendak tidur katakanlah tiga kali dalam hatimu, tanpa menggerakan lisanmu, 'Allahu ma'i...Allahu naadhiri...Allahu syaahidi !'(Artinya, Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikan Aku !)

Aku menghapalkan kalimat itu, lalu mengucapkannya bermalam-malam. Kemudian, aku menceritakan hal ini kepada paman.

Pamanku berkata, "Mulai sekarang ucapkan zikir itu sepuluh kali setiap malam.'

Aku melakukannya, aku resapi maknanya, dan kau merasakan ada kenikmatan dalam hatiku. Pikiran terasa terang. Aku merasa senantiasa bersama Allah Swt.

Satu tahun setelah itu, pamanku berkata, 'Jagalah apa yang aku ajarkan kepadamu, dan langgengkanlah sampai kau masuk kubur. Zikir itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan di akhirat.

Lalu pamanku berkata, 'Hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai Allah, dilihat Allah, dan disaksikan Allah, akankah dia melakukan maksiat?'

Kalimat Allahu ma'i Allahu naadhiri Allahu syaahidi ! sangat terkenal di kalangan ulama arif billah. Bahkan Syeikh Al-Azhar; Imam Abdul Halim Mahmud yang dikenal sebagai ulama yang arif billah menganjurkan kepada kaum muslimin untuk menancapkan kalimat ini di dalam hati. Maknanya yang dahsyat, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, akan mendatangkan rasa Ma'iyatullah (selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan oleh Allah Swt, di mana dan kapan saja).

Pada akhirnya, rasa ini akan menumbuhkan takwa yang tinggi kepada Allah Swt. Kalau sudah begitu, apakah orang yang merasa selalu disertai, dilihat, dan disaksikan Allah akan melakukan maksiat?

Dari kitab Ketika Cinta Berbuah Surga (Habiburrahman El Shirazy)

Senin, 26 September 2011

Penghambat Nikah

Jika kita berbicara tentang sebuah pernikahan, pasti akan banyak cerita yang tercipta. Baik dari proses menuju pernikahan, ketika akad, atau bahkan setelah pernikahan itu sendiri. Setiap orang pasti semua punya cerita tersendiri yang akan mengisahkan hidupnya menuju sebuah istana rumah tangga yang tercipta dari rajutan-rajutan mahligai cinta sepasang insan manusia. Bahagia, sedih, gundah selalu mewarnai pemuda-pemudi yang ingin melangkahkan kakinya menuju kesempurnaan agama. Lalu bagaimana jika yang tercipta sebelum pernikahan itu adalah sebuah kekecewaan?

Para pembaca yang kami hormati, mungkin timbul dalam benak kita sebuah pertanyaan, ada apa? Apa yang terjadi? dan banyak lagi pertanyaan yang timbul akibat sebuah kalimat pertanyaan yang aneh itu bagi kita, tapi tak akan aneh itu bagi mereka yang tahu sebab kekecewaan dari sang pemuda dan pemudi tersebut, padahal mereka belum menikah. Ternyata kekecewaan timbul karena ada faktor-faktor yang berdiri menghadang menghalangi niat suci mereka untuk membangun sebuah mahligai cinta yang diridhai Allah Swt.

Sang pemuda sering membayangkan betapa nikmatnya memiliki istri yang shalihah, yang menyenangkan ketika ia menatapnya, mentaatinya ketika ia memerintahkannya dan selalu menjaga kehormatan dirinya dan hartanya ketika ia tak ada disisinya. Ia mengangankan betapa indahnya memiliki anak yang selalu menyedapkan pandangan matanya dan menyegarkan kembali pikiran akibat kepenatan sehari dengan bermain bersamanya, begitu pun sang pemudi yang memiliki pemikiran yang sama dengan sang pemuda. Tapi apa mau dikata, jika gerbang pernikahan sulit baginya untuk terbuka. Berbagai macam faktor penghambat untuk menikah tak urung reda menerpa seiring perkembangan zaman yang katanya memudahkan setiap sendi kehidupan manusia saat ini. Apa sajakah itu?

Permasalahan ini kerap melanda para pemuda-pemudi zaman ini yang telah siap atau telah berazam (bertekad kuat) untuk menjaga kehormatan dirinya dengan cara menikah, akan tetapi terbentur oleh faktor-faktor penghambat yang seharusnya tak ada. Sehingga jika kita mau melirik sedikit saja, banyak yang berubah pola pikirnya tentang pernikahan dan timbulah permasalahan-permasalahan yang melanda akibat sulitnya utuk menikah, seperti munculnya sejumlah gangguan jiwa, tindakan asusila, freeseks (pergaulan bebas), penyakit yang menyerang tubuh dan akal, serta jumlah dampak negatif lainnya yang berkaitan dengan aspek sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, tulisan ini kami alamatkan kepada siapa saja yang mugkin memilki potensi menjadi faktor penghamabat pernikahan bagi sepasang manusia yang ingin melengkapi setengah agamanya. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan ibrah dari setiap kejadian yang terjadi. Dan inilah beberapa faktor penghambat yang banyak berkembang di masyarakat.

  1. Faktor penghambat yang pertama ialah mahalnya mahar (maskawin). Tingginya "tarif" maskawin yang          ditentukan oleh pihak perempuan sungguhlah memberatkan banyak pemuda yang ingin menikah. Seakan menjadi ajang adu gengsi atau mungkin banyak di pengaruhi oleh adat yang tidak sesuai dengan syariat islam, membuat "bursa" pernikahan menjadi lesu dan akhirnya timbullah banyak perzinaan yang tidak diharapkan. Betapa indahnya dan mudahnya Islam, ketika Rasulullah Saw menikahkan sahabatnya yang miskin hanya dengan hafalan bacaan Al-Qur'an yang dimilikinya, atau hanya dengan dengan 4 uqiyah (1 uqiyah= 40 dirham perak). Oleh karena itu, tak heran jika imam Ahmad rahimaullah menyebutkan dalam kitab sunahnya bahwasanya Umar bin Khatab ra pernah berkata "Janganlah kalian berlebihan dalam memberikan mahar kepada kaum wanita, sebab jika pemberian mahar itu adalah kehormatan di dunia atau ketakwaan di sisi Allah Swt, niscaya Rasulullah Saw adalah oarang yang paling unggul dalam memberikan mahar tersebut. Akan tetapi Rasulullah Saw tak pernah memberikan mahar kepada salah seorang pun dari istrinya atau putri-putrinya lebih dari dua belas uqiyah. Maka ingatlah sabda Rasulullah Saw yang menyatakan banyaknya harta bukanlah patokan dalam memberikan mahar. "Jika datang kepada kalian seorang peminang yang kalian merasa ridha dengan agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah (putri kalian) dengannya.", dan juga sabda Rasulullah Saw, "Sesungguhnya wanita yang terbaik adalah wanita yang paling mudah (ringan) maharnya." (HR.Ibnu Hibban).
  2. Faktor yang kedua ialah sikap berlebihan dalam menentukan biaya pernikahan. Biaya pernikahan tersebut ibarat mahar lain yang harus ditanggung oleh sang peminang. Hal itu merupakan salah satu adat yang ada dalam masyarakat kita. Padahal Allah Swt sama sekali tidak pernah menentukan ketentuan seperti itu. Dan tak jarang pula terjadi pemborosan besar-besaran dari acara walimah atau resepsi saja, akan tetapi kehidupan setelah pernikahan, itulah yang terpenting.
  3. Kemudian yang ketiga adalah faktor studi. Faktor ini sering dijadikan sebagai alasan untuk tidak menikah oleh kebanyakan pemuda-pemudi terpelajar. Mereka berdiri lemah tak berdaya, bingung dan tak tahu harus berbuat apa ketika dihadapkan dengan faktor ini, sedangkan pergaulan bebas terus merajalela dimana-mana, merayu para pemuda untuk bergabung di dalamnya. Padahal Allah Swt telah berfirman yang artinya, "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah Swt akan memampukan mereka dengan karunia-Nya." (QS an-Nur: 32). Disinihlah tanggung jawab orang tua yang berperan membawa anaknya kepada kebaikan dengan menikahkannya dengan memudahkan segala urusan anaknya. Dan sang mempelai pria pun harus menyadarinya tanggung jawabnya di dalam rumah tangga nantinya, yaitu bahwa ia wajib berusaha untuk menghidupi keluarganya. Siamaklah perkataan Imam Syafi'i : "Sungguh, memindahkan bebatuan dari puncak gunung lebih aku sukai dari pada aku harus menunggu pemberian orang lain. Orang-orang mengatakan bahwa pekerjaan itu merupakan pekerjaan yang memalukan, sementara aku mengatakan bahwa yang memalukan itu adalah perbuatan meminta-minta."
  4. Faktor yang keempat ialah merebaknya saran pemuasan hasrat seksual dengan cara yang tidak dibenarkan dan lemahnya kontrol agama. Dalam kehidupan yang penuh dengan tindak penyimpangan dan gaya hidup bebas sekarang ini, seorang pemuda sudah tidak lagi merasakan keinginan untuk menikah dan sudah tidak lagi membutuhkan pernikahan, kecuali jika pintu-pintu yang memudahkannya untuk melakukan perbuatan keji dan jalan-jalan yang mengantarkannya ke gerbang perzinaan ditutup. Sebab dalam kondisi seperti itu, seorang pemuda yang dihadapkan kepada dinding besar menuju gerbang pernikahan sulit dilalui, akhirnya menempuh jalan lain yang lebih instan, dan hasilnya terciptalah pemikiran yang merendahkan hakikat dari pernikahan itu sendiri. "Toh, di kanan kiri sudah tersedia sarana yang dapat memenuhi kebutuhan biologis, untuk apa harus bersusah payah membebani diri dengan tanggung jawab anak dan istri?." pikir mereka. Na'udzu billahi min dzalik.
Seharusnya pemikiran seperti itu tak akan muncul jika setiap individu baik pendidik atau selaku orang tua dan para pemuda memiliki kesadaran muraqabatullah (pengawasan Allah Swt). Merasa dirinya selalu diawasi oleh Allah sang Maha Melihat dan Mendengar, serta memahami agamanya dengan benar.
Oleh karena itu, wahai para orang tua, tanamkanlah pendidikan agama yang benar dan mendalam kepada putra dan putri kita sejak dini agar tak menyesal nantinya. Permudahlah urusan mereka selama tidak keluar dari syariat yang telah ditetapkan Allah Swt, seperti kesiapan mereka untuk menikah, agar tak terjadi kemudratan yang lebih besar dari pada anda mengekangnya menjadi bujangan dengan berbagai alasan yang tidak dibenarkan syariat. Wahai para pemuda-pemudi, jagalah diri kalian dari perbuatan keji. Perdalamlah agama kalian dengan sebebnar-benarnya, karena itu yang akan menghalangi kalian dari tipu dayanya setan yang mengajak kalian "bermain" di Neraka. Dan yakinlah dengan apa yang dijanjikan Allah Swt dan Rasul-Nya, karena janji Allah Swt adalah sebuah kepastian ada hikmah di dalamnya. Allahu ta'ala a'alam.

Mutiara Hadits Nabawi
"Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siap yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa ; sebab puasa dapat menekan syahwatnya." (Mutafq 'alaih)
Sumber : Buletin Dakwah An-Nur, Ibnu Ruslan





    Minggu, 21 Agustus 2011

    Cerita Alqomah (ahli ibadat tetapi derhaka pada orang tuanya)

    Abban dari Anas r.a. berkata: “Ada seorang pemuda bernama Alqomah dimasa Rasulullah s.a.w. Pemuda ini rajin ibadat dan banyak sedekah, tiba-tiba ia sakit dan sangat berat sakitnya, maka isterinya menyuruh orang memanggil Rasulullah s.a.w. dan menyatakan bahawa suaminya sakit keras didalam keadaan nazak sakaratal maut dan saya ingin menerangkan kepadamu keadaannya. Maka Rasulullah s.a.w. menyuruh Bilal, Ali, Salman dan Ammar r.a. supaya pergi ketempat Alqomah dan memperhatikan bagaimana keadaannya dan ketika telah sampai kerumah Alqomah mereka langsung masuk kepada Alqomah dan menuntunnya supaya membaca: Laa ilaha illallah, tetapi lidah Alqomah bagaikan terkunci, tidak dapat mengucap dua kalimah syahadah itu, ketika para sahabat itu merasa bahawa Alqomah pasti akan mati, mereka menyuruh Bilal supaya pergi memberutahu hal itu kepada Rasulullah s.a.w.
    Rasulullah s.a.w. langsung bertanya: “Apakah ia masih mempunyai ibu dan ayah?” Jawabnya: “Ayahnya telah meninggal, sedang ibunya masih hidup tetapi terlalu tua.” Rasulullah s.a.w. bersabda kepada Bilal: “Ya Bilal, pergilah kepada ibu Alqomah dan sampaikan kepadanya salamku, dan katakan kepadanya: JIka kau dapat berjalan pergi kepada Rasulullah s.a.w., dan jika tidak dapat maka Rasulullah s.a.w. akan datang kesini.” Jawab ibu Alqomah: “Sayalah yang lebih layak pergi kepada Rasulullah s.a.w. Lalu ia mengambil tongkat dan berjalan hingga masuk kerumah Rasulullah s.a.w. dan sesudah memberi salam ia duduk didepan Rasulullah s.a.w. Maka Rasulullah s.a.w. bertanya: “Beritakan yang benar-benar kepadaku, jika kau dusta kepada ku nescaya akan turun wahyu memberitahu kepadaku, bagaimanakah keadaan Alqomah?” Jawab ibu Alqomah: “Alqomah rajin ibadat sembahyang, puasa dan sedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui berapa banyaknya.” Rasulullah s.a.w. bertanya lagi: “Lalu bagaimana hubunganmu dengan dia?” Jawab ibu Alqomah: “Saya murka kepadanya.” Rasulullah s.a.w. bertanya: “Mengapa?” Jawab ibu Alqomah: “Kerana ia mengutamakan isterinya lebih daripadaku dan menurut isterinya kepadaku dan menentangku.”
    Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: “”Murka ibunya, itulah yang mengunci (menutup) lidahnya untuk mengucap dua kalimah syahadah.” Kemudian Rasulullah s.a.w. menyuruh Bilal supaya mengumpul kayu sebanyak-banyaknya untuk membakar Alqomah dengan api itu. Ibu Alqomah bertanya: “Ya Rasulullah s.a.w., puteraku, buah hatiku akan kau bakar dengan api didepanku? bagaimana akan dapat menerima hatiku?” Rasulullah s.a.w. bersabda: ” “Hai ibu Alqomah, siksaan Allah s.w.t. lebih berat dan kekal, kerana itu jika kau ingin Allah s.w.t. mengampunkan dosanya, maka relakan ia (kau harus ridho padanya), demi Allah s.w.t. yang jiwaku ada ditanganNya tidak akan berguna sembahyang, sedekahnya selama engkau murka kepadanya.” Lalu ibu Alqomah mengangkat kedua tangan dan berkata: “Ya Rasulullah, saya mempersaksikan kepada Allah s.w.t. dilangit dan kau ya Rasulullah, dan siapa yang hadir ditempat ini bahawa saya telah ridho kepadanya.”
    Maka langsung Rasulullah s.a.w. menyuruh Bilal pergi melihat hal keadaan Alqomah, apakah sudah mengucap Laa ilaha illallah atau tidak, khuatir kalau-kalau ibu Alqomah mengucapkan itu hanya kerana malu pada Rasulullah s.a.w. dan tidak pada hatinya. Apabila Bilal sampai dipintu rumah Alqomah tiba-tiba terdengat suara Alqomah membaca Laa ilaha illallah. Lalu Bilal masuk dan berkata: “Hai orang-orang, sesungguhnya murka ibu Alqomah itu yang menutup lidahnya untuk mengucap dua kalimah syahadah dan ridhonya kini melepaskan lidahnya, maka matilah Alqomah pada hari ini.” Maka datanglah Rasulullah s.a.w. dan menyuruh supaya segera dimandikan dan dikafankan, lalu disembahyangkan oleh Rasulullah s.a.w. Dan sesudah dikuburkan Rasulullah s.a.w. berdiri diatas tepi kubur sambil berkata: “Hai sahabat Muhajir dan Anshar, siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya maka ia terkena kutukan (laknat) Allah s.w.t. dan tidak diterima daripadanya ibadat fardhu dan sunatnya.”
    Ibu Abbas r.a. ketika mengertikan ayat (Yang berbunyi): Wa qodho rabbuka alla ta buda illa iyyaahu, wabil walidaini ihsana, imma yablughanna indakal kibara ahaduhuma au kilahuma fala taqul lahuma uf wala tanharhuma waqul lahuma qoulan karima. (Surah Al Isra ayat 23) (Yang bermaksud) Tuhanmu telah menyuruh supaya kamu jangan menyembah (mengesakan) selain padaNya. Dan terhadap kedua ibu bapa harus berbakti (taat dan baik) apabila telah tua salah satunya atau keduanya disisimu, maka jangan menunjukkan sikat atau sikap jemu atau berkata: Cih, kepada keduanya, umpama jika kau samapi membuang kencing atau najis ibu atau bapa, maka jangan kau tutup hidungmu dan jangan muram mukamu sebab keduanya telah mengerjakan semua itu dimasa kecilmu, dan jangan membentak keduanya dan berkatalah dengan lemah lembut, sopan santun, ramah tamah dan hormat.

    Kamis, 18 Agustus 2011

    Mengenal Allah

    Ma'rifat kepada Allah atau mengenal Allah tentang zat dan sifat-sifat-Nya adalah kewajiban setiap muslim dan muslimat di manapun mereka berada.
    Sebab dengan ma,rifat kepada Allah itu akan bersemilah iman yang ada dalam dada sedangkan iman kepada Allah itu menjadi sendi keyakinan dan lepercayaan yang terpokok dalam Islam. Karananya sungguh beruntung orang yang beriman kepada Allah itu.
    Bilamana seseorang telah tertanam dalam dadanya iman kepada Allah, meyakinkan tentang adanya Allah, meyakinkan bahwa Allah zat Yang Maha Sempurna dalam segala-galanya dan dijauhkan dari segala sifat kekurangan, niscaya akan bersemi pula beriman kepada alam ghaib yakni malaikat, jin, roh dan sebagainya.
    Dan iman kepada Allah itu akan menumbuhkan pula iman kepada kitab-kitab Allah yakni kitab suci yang ditrunkan kepada para Rasul. Dan wujud pada kepercayaan dan iman kepada para Rasul sebagai utusan Allah.
    Yang demikian akan wujud pula iman kepada adanya alam akhirat, yaitu hari bangkitnya manusia dari alam kubur untuk diperhitungkan segala amalnya sewaktu di dunia dahulu meyakini adanya pahala, siksa, syurga dan neraka. Dan akan beriman pula tentang adanya takdir Allah Swt. Begitulah buahnya ma,rifat kepada Allah yang betul-betul bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia di dunia ini, sebagai hamba Allah.
    Oleh karana itu seorang penyair berkata:
    "Permulaan yang wajib bagi manusia mengenal Tuhan (Allah) denagn penuh keyakinan."

    Jalan mengenal Allah itu ada dua:
    1. Dengan jalan menggunakan akal untuk merenung dan berfikir segala ciptaan Allah Swt.
    2. Denagn jalan mengenal nama Allah dan sifat-sifat-Nya
    Kedua jalan itu harus kita tempuh agar iman yang ada dalam dada kita bertambah yakin dan kuat sehingga menguasai hati.


    Ma'rifat Dengan Jalan Menggunakan Akal

    Anugerah Allah yang diberiakan kepada manusia yang tidak ternilai harganya ialah akal. Dengan akal fikiran manusia dapat mencapai kemajuan sehingga dewasa ini manusia dengan akalnya dapat menginjakan kakinya ke bulan, dapat melayang-layang di udara berjam-jam lamanya. Itulah kalau akal fikiran manusia digunakan dengan sebaik-baiknya.
    Dengan menggunakan akal itu pula manusia dapat mencapai kesempurnaan hidup melebih dari mahluk-mahluk yang lain. Dapat mendirikan gedung yang indah, mendirikan pabrik yang beraneka ragam, mendapatkan hasil tanaman dan lain sebagainya yang bermanfaat bagi hidup, yang semuanya itu tercapai berkat dari ketekunan manusia menggunakan akalnya.
    Maka dalam ma'rifat kepada Allah perlu pula manusia menggunakan akal, ialah dengan jalan memikir-mikir keindahan ciptaan Allah.
    Bagaimana Allah menciptakan matahari  benda raksasa yang membara dapat bergerak di angkasa. Memikir-mikir terjadinya binatang yang beraneka warna ada yang buas seperti harimau ada yang bergading dan berbelalai panjang ialah gajah, memikir-mikir pula tentang keadaan iakan yang bermacam-macam bentuk dan warnanya, indah sekali, semuanya itu bukan manusia yang menciptakan dan yang membuatnya melainkan Allah Swt.


    Nas Al-Qur'an dan Hadis Yang Memerintahkan Manusia Menggunakan Akalnya

    Banyak ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis Nabi Saw yang memerintahkan agar manusia menggunakan akalnya. Merenung dan berfikir tentang hal keduniaan dan keakhiratan. Diantaranya ialah firman Allah Swt :

    "Yang demikian itu Allah menerangkan ayat-ayatnya agar kamu berfikir, hal keadaan dunia dan akhirat." (Al-Baqorah : 219-220)

    Di dalam firman Allah swt yang lain berbunyi :

    "Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi, karana tidak berguna tanda-tanda kekuasaan Allah dan peringatan-peringatan bagi kaum yang tidak beriman." (Yunus : 101)

    Diseutkan pula :

    "Perhatikan buahnya ketika pohon itu berbuah. Dan sesungguhnya di dalam yang demikian itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang beriman." (Al-An'am : 99)

    Yang dimaksud perhatikanlah dalam ayat di atas ialah fikirlah.
    Adapun maksud ayat tersebut: Cobalah perhatikan dengan hati yang jernih, bagaimana pohon dapat berbuah, semula buah itu kecil dan akhirnya besar dan masak. Keadaan buah berbeda-beda rasa, warna dan ketika masih muda dan ketika telah masak. Bukan manusia yang membuatnya demikian, melainkan Allah mencipta semesta alam. Yang demikian menjadi bukti kekuasaan Allah Swt yang tak terbatas.
    Cobalah perhatikan bumi, bulan bintang dan matahari berjalan dengan peraturan alam dengan tata tertib yang rapih. Semuanya berjalan dan beredar di tempatnya sendiri-sendiri dengan aman. Tidak berbenturan satu dengan yang lain, sehingga terjadilah pengganti siang dan malam yang teratur, yang demikian menjadi bukti adanya kekuatan ghaib di luar alam ini dengan teratur dan berhikmat, termasuk bumi dan manusia yang mendiaminya, terapung-apung diangkasa nan luas dengan aman.
    Sedangkan kekutan ghaib Yang Maha dahsyat yang menggerakan alam ini menurut ajaran Islam  ialah datangnya dari Allah Yang Maha Agung Yang Maha Sempurna dalam segala-galanya. Allah-lah yang mengatur segala-galanya yang serba berhikmat itu.
    Jadi Allah-lah yang menciptaklan dunia dengan segala isinya ini, sebab Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Sempurna, Maha Bijaksana, Maha Perkasa, yang telah menciptakan dunia sesuai dengan Keagungan dan Kebesaran-Nya.
    Kalau sekiranya perjalanan alam yang serba teratur atas kehendak manusia, tentulah tidak sehebat itu. sebab manusia adalah mahluk  yang lemah. Terbukti kendaraan yang di pandu menurut kehendak manusia boleh rusak. Kita dengar di sana sini ada juga kadang-kadang kapal udara jatuh, kapal karam di tengah laut, pelanggaran kereta dengan kereta atau dengan motor dan sebagainya,. Semuanya itu menunjukkan kekurangan dan kelemahan manusia. Kenyataanya keadaan serba  teratur, tidak kacau balau satu dengan yang lain. Bumi, bulan, bintang berjalan di tempatnya masing-masing tentu Allah-lah yang mengaturnya. Oleh karana itu dapat kita simpulkan bahwa adanya dunia ini menunjukan adanya Allah, Tuhan semesta alam.

    Disebutkan dalam Al-Qur'an

    "Katakanlah: Siapakah Tuhan langit dan bumi, jawablah: Allah. Katakanlah: Apakah kamu menjadikan pelindung-pelindung selain Allah sedangkan mereka tidak menguasai kemanfaatan dan kemudharatan terhadap diri mereka sendiri. Katakanlah: Apakah sama orang buta dan orang yang dapat melihat ataukah sama gelap dengan terang. Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya. Sehingga dua ciptaan itu serupa bagi mereka. Katakanlah Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu, dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." (Ar Ra'ad: 16)

    Disebutkan di lain ayat

    "Sesungguhnya di dalam terjadinya langit dan bumi dang pergantian malam dan siang sesungguhnya bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Ialah orang-orang yang ingat kepada Allah di waktu berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka berfikir tentang terjadinya langit dan bumi, kemudian mereka berkata wahai Tuhan kami Engkau tidak menjadikan ini sia-sia, Mha Suci Engkau maka hindarilah kami dari siksa neraka." (Ali Imraan: 190-191)

    Adapun hadis yang memerintahkan agar kita Manusia mengunakan akalnya di antaranya ialah sabda Rasulullah Saw

    "Berfikirlah kamu tentang segala  dan janganlah kamu berfikir tentang zat Allah."

    Akal Yang Terbatas

    Akal manusia terbatas. Oleh karana itu lapangan pemikiran ada batasnya. Manusia tidak dapat memikir sesuatu di luar batas kemampuannya, terutama hal-hal ghaib, misalnya memikirkan hakikat wujud ruh manusia, bila datangnya hari kiamat, malaikat, jin, zat Allah dan sebagainya. Sebab manusia ada batasnya.
    Dalam Al-Qura'an disebutkan 

    Dan mereka bertanya kepada engkau tentang ruh, jawablah soal ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit." (Al-Isra': 85)

    Tegasnya karana ilmu manusia hanya sedikit bila dibandingkan dengan ilmhu Allah, maka tidak dapat mengetahui hakikat wujud ruh manusia, karana soal ruh manusia itu.

    Dalam Al-Qur'an disebutkan pula

    "Mereka bertanya kepadamu bilakah datangnya kiamat itu, katakanlah sesungguhnya tentang itu di tanagn Tuhanku, tidak ada orang yang dapat menerangkan waktunya kecuali Ia sendiri>" (Al Aa'araf: 187)

    Seandainya ada orang yag meramalkan hari Kiamat menurut hari ketentuannya ia sendiri, Adalah sebenarnya suatu ramalan kosong, yang bagi kaum muslimin tidak perlu mempercayainya karana hadis Nabi Saw. Jadi biar ramalan itu untuk beliau sendiri saja, dan kita tidak perlu terpengaruh olehnya.
    Dalam hadis muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang bila datangnya hari Kiamat, jawab Baginda:

    "Tidaklah yang ditanya tentang hari kiamat itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya (sama-sama tidak mengetahui)."

    Begitu juga manusia tidak dapat mengetahui hakikat wujud zat Allah Swt, sebab yang demikian di luar batas kemampuan manusia.

    Rasulullah Saw bersabda:
    "Berfikir kamu tentang segala sesuatu dan janganlah kamu memikirkan tentang zat Allah."
    Dalam Al-Qur'an disebutkan:
    "Dia (Allah) tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Al-An,am: 103)

    Tegasnya ilmu manusia ada batasnya, tidak dapat menjangkau hal-hal yang ghaib tentang zat Allah Swt.

    Makrifat Dengan Jalan Mengenal Nama Allah dan Sifat-Nya

    Untuk mengenal Allah Swt dapat juga dicapai dengan jalan mengenal nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
    Jadi disamping kita berusaha dengan merenung dan berfikir keadaan alam ciptaan Tuhan dan segala isinya bagi meyakini tentang kebesaran, keagungan dan kekuasaan Allah, maka disamping itu pula kita berusaha pula mengetahui nama Allah akan tertanam iman yang kuat dalam dada, sehingga keimanan kita kepada Allah bukan hanya ikut-ikutan melainkan benar-benar mengenal-Nya dengan ilmu dari kesadaran dan keinsafan.

    Allah Tuhan semesta alam mempunyai nama-nama yang terbaik sesuai dengan sifat-sifat Allah Yang Maha Sempurna yang disebut dengan Al Asmaaul Husnaa.
    Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qura'an

    "Katakanlah berdoalah kamu kepada Allah atau ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kemu berseru bolehlah karana Dia mempunyai nama-nama yang terbaik." (Al Israa': 110)

    Ayat ini menjelaskan bahwa sebagian dari kaum musyrikin berkata: Mengapa Muhammad melarang kita menyekutakan Allah padahal ia memanggil Allah, Ar Rahman dan lain-lainnya. MEreka tidak mengetahui bahwa Allah, Ar Rahman Ar Rahim dan lain-lainnya itu adalah nama-nama yang baik bagi Allah.

    Ibnu Jari dan Ibnu Marduwaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya baginda berkata:

    "Rasulullah Saw pada suatu hati sholat di mekah, kemudian berdoa kepada Allah taa'la, kemudian mengucapkan dalam doanya itu : YA ALLAH - YA RAHMAN. Maka berkatalah orang-orang musyrik, coba perhatikan shabi ini (Rasulullah Saw) melarang kita menyeru dua Tuhan padahal ia menyeru dua Tuhan pula kemudian turunlah ayat di atas. (Qulid'ullaaha awid'ur rahman)." (Al Israa': 110)

    Jadi kita berdoa dengan menyebut Ya Allah atau Ya Rahman ataupun lainya sama saj sebab Allah memiliki nama-nama yang terbaik (Al Asmaaul Husnaa). Boleh menyeru dengan salah satu dari Asmaaul Husnaa itu, sebab tiada lain yang diseru dan dituju adalah Allah Tuhan Yang Maha Esa. Nama-nama yang menunjukan sifat-sifat Allah Yang Maha Agung dan Maha Kuasa itulah yang disebut Al Asmaaul Husnaa.

    Dari Kitab Rahasia Di Balik Kata-kata Indah (Al Asma-ul Husnaa)

    Al Ustaz Ismail Haji Ali

    Selasa, 09 Agustus 2011

    Hikmah Psikologis Puasa

    Lapar dan Keinginan
    Diketahui, tidak ada pengaruh lapar dalam mengobati keinginan-keinginan serta tubuh yang menderita sakit. Para ilmuwan Eropa mengunakan puasa sebagia terapi pengobatan penyakit ini.

    Berkaitan dengan hal ini, dr. John Dart mengatakan, "Kaum agamawan telah lebih tahu keutamaan lapar. Lalu dijadikan lapar sebagai dasar keyakinan mereka. Seseorang dalam keadan lapar, keinginan akan meningkat tajam, kokoh melebihi gunung, dan lebih terang dari pada bintang. Dengnan demikian, rahasia puasa tampak nyata bagi orang-orang terdahulu daripada kini. Mereka berjuang sepenuh jiwa tanpa mengenal bosan dan lelah, mereka taklukan negeri-negeri dan mengalahkan musuh. Semua itu karena pada diri mereka tumbuh keinginan dan harapan serta keyakinan kuat.

    Puasa dan Kesehatan Jiwa

    Menurut sebagian peneliti, "Status manusia berada diantara binatang dan malaikat. Manusia tidak lebih baik daripada binatang kecuali dengan cahaya akal, juga tidak lebih rendah daripada malaikat kecuali jika menempuh jalur syahwat. Jika manusia terbenam menuruti kehendak nafsu, ia condong kepada binatang, namun jika mampu melawan, jiwanya akan meningkat mencapai derajat malaikat.

    Kala orang yang melaksanakan  puasa meninggalkan makan dan minum, ia menjauhi tabiat bumi yang termanifestasi dalam kebutuhan-kebutuhan fisiknya. Kebutuhan-kebutuhan fisik inilah yang menghalangi laju pertumbuhan jiwa menuju alam cahaya.

    Ironisnya, kita tidak tahu ada apa dibalik puasa. Yang kita tahu kalau puasa adalah meninggalkan makan dan minum di siang hari, lalu semua yang tidak bisa kita dapatkan di siang hari itu, kita bisa mendaptkan gantinya di malam hari.

    Artinya, kita berpuasa tidak mencuci untuk jasmani dan menyuburkan ruhani, tapi baru sebatas gugur kewajiban. Manusia adalah jiwa dan raga . Dr. Yusuf Qaradhawi mengatakan "Manusia adalah jiwa yang tinggi, dan raga yang rendah. Raga dalah rumah dan jiwa adalah penghuninya."
    Raga ibarat kendaraan, dan jiwa adalah pengemudinya. Rumah didesain tidak untuk rumah itu sendiri, demikian pula kendaraan tidak untuk dirinya. Namun rumah didesain untuk kemaslatan penghuninya, dan kendaraan untuk kemanfaatan pengemudinya.

    Anehnya, betapa banyak keturunan Adam yang melalaikan dirinya, dan lebih memedulikan rumahnya; menjadikan dirinya sebagai pelayan untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, dan melalaikan jiwanya; menghamba pada raga, hanya demi raga bekerja; beraktifitas hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik duniawi, di seputar perut dan syahwat.

    Filsafat Puasa
    "Jarang ada pembahasan yang lengkap mengenai falsafah dan hikmah puasa. Secara fisik hanya merupakan bagian dari catatan medis dan tata cara penerapannya. para medis tidak sampai menyentuh taraf hakikat atas catatan yang dibuatnya."
    Hari-hari bulan Ramadhan ibarat 30 butir (obat) yang dikonsumsi setiap tahun untuk penguatan lambung, penyucian darah, dan perawatan mesin pencerna tubuh. Namun bukan itu yang dimaksudkan di sini, akan tetapi kita akan mengambil inspirasi Islam yang mewajibkan puasa bagi penduduk bumi sebagai faktor yang mengukuhkan ide manusia, agar tidak terjadi perubahan jiwa akibat peristiwa yang datang silih berganti.
    • Kesetaraan
    Puasa merupakan wujud kesetaraan ruhani yang dikehendaki syariah pada manusia, baik bagi si kaya maupun si miskin sebagaimana kesetaraan individu dalam shalat yang diwajibkan Islam bagi setiap muslim serta kesetaraan sosial dalam kewajiban ibadah haji bagi orang yang mampu melaksanakannya
    Kesetaraan ini ditujukan mengiringi jiwa manusia dengan tindakan nyata, bahwa ada kehidupan sejati di balik kehidupan dunia yang nisbi, hanya bisa terhujud dengan kesamaan rasa pada manusia, bukan saat berbeda. Yaitu saat bersama merasakan keprihatinan, bukan saat berkompetisi mengikuti keinginan (nafsu) yang beragam.

    • Perbedaan Kebutuhan (perut)
    Jika kita perhatikan, pada hakikatnya tidak ada perbedaan dalam hal akal, nasib, martabat dan kepemilikan. Perbedaan terletak pada kebutuhan perut dan pengaruhnya terhadap akal dan perasaan. Bencana yang menimpa manusia berasal dari perut yang memicu tindakan akal di muka bumi. Ketika terjadi perbedaan antara perut dan otak, perut akan menjulurkan kekuatan pencernaannya yang tidak mampu diredam.
    Di sini puasa berfungsi memberikan pendidikan dan pelatihan, dan menjadikan manusia setara, satu rasa, memberikan batasan antara perut dan materi (yang dibutuhkan), meredam segenap perangkat saraf di dalam tubuh untuk menerima makanan dan berbagai kenukmatan lainnya, bahkan hingga hisapan asap rokok
    •  Kasih Sayang Tumbuh dari Keprihatinan
    Di antara prinsip ilmu jiwa adalah bahwa rasa kasih sayang timbul dari keprihatinan. Inilah sebagian rahasia puasa yang agung berkaitan dengan aspek sosial. Dengan berpuasa seseorang  benar-benar mencegah dirinya dari makanan atau serupa makanan agar tidak masuk ke perut. Dia melakukannya semata hanya ingin menaati perintah Allah. Ini adalah cara praktis mengembangkan kasih sayang dalam diri. Tidak ada cara lain yang lebih praktis selain musibah atau bencana. Namun antara keduanya terdapat perbedaan yang besar. Cara pertam (yaitu dengan berpuasa) adalah cara yang bijak, sementara yang kedua adalah cara yang buta. Cara pertama adalah cara untuk orang-orang yang khusus, sementara cara yang kedua adalah cara orang awam. Cara yang pertama adalah cara yang teratur, sedangkan cara yang kedua adalah cara yang membabi-buta.
    Ketika kasih sayang orang kaya yang lapar kepada orang miskin yang lapar teruwujud, maka rasa kemanusian yang ada dalam diri setiap manusia akan mempunnyai kekuatan dan mereka bisa mengontrol keinginan jiwa terhadap materi. Orang kaya akan mendengar suara orang miskin dalam sanubarinya, "Berilah aku kasih sayangmu." Kemudian dia tidak lagi mendengar suara harapan tetapi perintah dari dalam diri yang harus dituruti dan direspon. Seperti seorang yang terkena musibah menghibur orang-orang yang senasib.
    • Bulam Kesehatan
    Adakah mukjizat perbaikan yang lebih menakjubkan dari pada mukjizat yang telah dibawa oleh Islam, yang telah menetapkan untuk menghapus sejarah perut selama 30 hari setiap tahunnya dan diganti dengan sejarah jiwa yang agung?
    Saya yakin bahwa ada rahasia kesehatan yang tersembunyi dalam puasa yang diwajibkan selama satu bulan setiap dua belas sekali. Rahasia kesehatan ini tanpak dalam tugas-tugas jiwa bagi tubuh dan tugas-tugas tubuh bagi jiwa. Bulan tersebut adalah bulan kesehatan yang telah diwajibkan dalam ilmu kedokteran setiap tahunnya untuk masa istirahat tubuh, pengeluaran racun-racun, perubahan pola hidup, dan agar terjadi perbaikan syaraf-syaraf dalam tubuh. Barangkali hal itu muncul karena adanya hubungan antara sistem dalam peredaran darah di tubuh manusia dengan pergerakan bulan, sejak bulan masuk hilal sampai mengecil kembali. Pembuluh darah akan membesar pada setengah bulan pertama, seakan sedang pasang karena pengaruh cahaya bulan dan akan terus dalam kondisi seperti itu selama cahaya bulan semakin penuh. Kemudian akan mengempis (surut) pada setengah bulan kedua. Jika terbukti bahwa bulan memiliki pengaruh terhadap munculnya penyakit-penyakit syaraf dan dalam pasang surutnya darah, maka ini adalah hikmah yang paling menakjubkan dari penetapan puasa pada bulan qamariyah.
    • Meredam Keinginan
    Antara terlihatnya hilal bulan puasa dan diwajibkannya puasa karena melihat hilal tersebut terdapat makna yang dalam. Bersama dengan ditetapkannya hilal bulan puasa, maka itu menandakan telah ditetapkannya kehendak dan telah dinyatakan secara kuat untuk berpuasa. Cahaya langit seakan memancar dalam mengingatkan semua umat manusia secara umum tentang diwajibkannya kasih sayang, kemanusiaan dan kebajikan.
    Dari sini ada hikmah yang besar dari hikmah-hikmah puasa, yaitu fungsi puasa dalam mendidik kehendak dan menguatkannya dengan cara ilmiah. Puasa melatih seorang untuk meninggalkan syahwat dan kenikmatan hewani dengan kemauan sendiri. Dengan tetap teguh untuk mencegah diri dari hal yang membatalkan puasa dan bersiap dengan kehendaknya, bersabar dengan ahlak kesabaran, serta melakukan dengan sebaik-baik jalan spiritual untuk mendapatkan pemikiran yang teguh dan kokoh yang tidak akan berubah dan tidak akan dikalahkan oleh keinginan-keinginan insting.
    •  Training Ruhani
    Musthafa Shadiq Ar-Raf,i melanjutkan, "Demi Allah, seandainya puasa yang islami ini bisa dilaksanakan oleh seluruh penduduk bumi, pasti makna puasa akan menjadi revolusi umat manusia selama sebulan penuh dalam setahun untuk membersihkan dunia dari kenistaan, kerusakan, menghapus sikap egois dan pelit." Puasa menjadi materi psikologis yang bisa di pelajari penduduk bumi secara aplikatif selama bulan puasa tersebut. Sehingga setiap orang laki-laki atau perempuan, bisa menengok kedasar jiwanya untuk menguji makna membutuhkan dan kemiskinan dalam pikirannya. Dan supaya bisa memahami makna-makna kesabaran, keteguhan dan kemauan dalam dirinya. Dengan begitu dia bisa mencapai derajat kemanusiaan, egaliter dan kebaikan, sehingga akan terhujud nilai-nilai persaudaraan, kebebasan dan persamaan yang hakiki.
    Semua yang saya sebutkan dalam tulisan tentang filsafat berpuasa ini, saya sarikan dari ayat,
    "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah 2:183).
    Para ulama telah memahami kandungan ayat ini bahwa di antara makna takwa adalah berpuasa.
    Saya mengintrpretasi ayat ini sebagai berikut, bahwa takwa berasal dari ittiqa' (menjaga diri). Dengan puasa seseorang menjaga dirinya agar tidak menjadi seperti binatang yang aturan hukumnya adalah hukum perut dan supaya tidak berinteraksi di dunia dengan materi-materi hukum perut tersebut. Dengan berpuasa masyarakat akan terjaga kemanusiaan dan esksitensinya, sehingga hubungan antar manusia tidak seperti hubungan keledai dengan manusia yang kekuatannya bisa dibeli dengan seikat rumput.
    Ar-Rafi'i melanjutkan, "Semua yang saya jelaskan adalah menghidari bahaya untuk mendatangkan manfaat, dan menghidari kenistaan untuk mendatangkan keutamaan. Dengan interpretasi seperti ini, tidak ada yang menjelaskan makna puasa dengan ungkapan yang lebih ringkas dan sempurna seperti ayat tersebut. Puasa menjadi aturan sosial umat manusia secara umum. Dengan masyarakat bisa melindungi diri dari keburukan dirinya. Dunia tidak akan teratur jika tidak ada undang-undangn yang ditaati berupa hukum yang universal yang namanya puasa."
    Betapa agungnya engkau wahai bulan Ramadhan! Seandainya seluruh penduduk bumi mengenalmu dengan sebenar-benarnya, pasti mereka akan menyebutmu, "Training ruhani tiga puluh hari."

    Karya: Ali Wasil El Helwany
    Dari Buku Manfaat Luar Biasa Puasa, Medis, Psikologis & Spritual