MAMPIR GAN DI LAPAK ANE

Kamis, 18 Agustus 2011

Mengenal Allah

Ma'rifat kepada Allah atau mengenal Allah tentang zat dan sifat-sifat-Nya adalah kewajiban setiap muslim dan muslimat di manapun mereka berada.
Sebab dengan ma,rifat kepada Allah itu akan bersemilah iman yang ada dalam dada sedangkan iman kepada Allah itu menjadi sendi keyakinan dan lepercayaan yang terpokok dalam Islam. Karananya sungguh beruntung orang yang beriman kepada Allah itu.
Bilamana seseorang telah tertanam dalam dadanya iman kepada Allah, meyakinkan tentang adanya Allah, meyakinkan bahwa Allah zat Yang Maha Sempurna dalam segala-galanya dan dijauhkan dari segala sifat kekurangan, niscaya akan bersemi pula beriman kepada alam ghaib yakni malaikat, jin, roh dan sebagainya.
Dan iman kepada Allah itu akan menumbuhkan pula iman kepada kitab-kitab Allah yakni kitab suci yang ditrunkan kepada para Rasul. Dan wujud pada kepercayaan dan iman kepada para Rasul sebagai utusan Allah.
Yang demikian akan wujud pula iman kepada adanya alam akhirat, yaitu hari bangkitnya manusia dari alam kubur untuk diperhitungkan segala amalnya sewaktu di dunia dahulu meyakini adanya pahala, siksa, syurga dan neraka. Dan akan beriman pula tentang adanya takdir Allah Swt. Begitulah buahnya ma,rifat kepada Allah yang betul-betul bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia di dunia ini, sebagai hamba Allah.
Oleh karana itu seorang penyair berkata:
"Permulaan yang wajib bagi manusia mengenal Tuhan (Allah) denagn penuh keyakinan."

Jalan mengenal Allah itu ada dua:
  1. Dengan jalan menggunakan akal untuk merenung dan berfikir segala ciptaan Allah Swt.
  2. Denagn jalan mengenal nama Allah dan sifat-sifat-Nya
Kedua jalan itu harus kita tempuh agar iman yang ada dalam dada kita bertambah yakin dan kuat sehingga menguasai hati.


Ma'rifat Dengan Jalan Menggunakan Akal

Anugerah Allah yang diberiakan kepada manusia yang tidak ternilai harganya ialah akal. Dengan akal fikiran manusia dapat mencapai kemajuan sehingga dewasa ini manusia dengan akalnya dapat menginjakan kakinya ke bulan, dapat melayang-layang di udara berjam-jam lamanya. Itulah kalau akal fikiran manusia digunakan dengan sebaik-baiknya.
Dengan menggunakan akal itu pula manusia dapat mencapai kesempurnaan hidup melebih dari mahluk-mahluk yang lain. Dapat mendirikan gedung yang indah, mendirikan pabrik yang beraneka ragam, mendapatkan hasil tanaman dan lain sebagainya yang bermanfaat bagi hidup, yang semuanya itu tercapai berkat dari ketekunan manusia menggunakan akalnya.
Maka dalam ma'rifat kepada Allah perlu pula manusia menggunakan akal, ialah dengan jalan memikir-mikir keindahan ciptaan Allah.
Bagaimana Allah menciptakan matahari  benda raksasa yang membara dapat bergerak di angkasa. Memikir-mikir terjadinya binatang yang beraneka warna ada yang buas seperti harimau ada yang bergading dan berbelalai panjang ialah gajah, memikir-mikir pula tentang keadaan iakan yang bermacam-macam bentuk dan warnanya, indah sekali, semuanya itu bukan manusia yang menciptakan dan yang membuatnya melainkan Allah Swt.


Nas Al-Qur'an dan Hadis Yang Memerintahkan Manusia Menggunakan Akalnya

Banyak ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis Nabi Saw yang memerintahkan agar manusia menggunakan akalnya. Merenung dan berfikir tentang hal keduniaan dan keakhiratan. Diantaranya ialah firman Allah Swt :

"Yang demikian itu Allah menerangkan ayat-ayatnya agar kamu berfikir, hal keadaan dunia dan akhirat." (Al-Baqorah : 219-220)

Di dalam firman Allah swt yang lain berbunyi :

"Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi, karana tidak berguna tanda-tanda kekuasaan Allah dan peringatan-peringatan bagi kaum yang tidak beriman." (Yunus : 101)

Diseutkan pula :

"Perhatikan buahnya ketika pohon itu berbuah. Dan sesungguhnya di dalam yang demikian itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang beriman." (Al-An'am : 99)

Yang dimaksud perhatikanlah dalam ayat di atas ialah fikirlah.
Adapun maksud ayat tersebut: Cobalah perhatikan dengan hati yang jernih, bagaimana pohon dapat berbuah, semula buah itu kecil dan akhirnya besar dan masak. Keadaan buah berbeda-beda rasa, warna dan ketika masih muda dan ketika telah masak. Bukan manusia yang membuatnya demikian, melainkan Allah mencipta semesta alam. Yang demikian menjadi bukti kekuasaan Allah Swt yang tak terbatas.
Cobalah perhatikan bumi, bulan bintang dan matahari berjalan dengan peraturan alam dengan tata tertib yang rapih. Semuanya berjalan dan beredar di tempatnya sendiri-sendiri dengan aman. Tidak berbenturan satu dengan yang lain, sehingga terjadilah pengganti siang dan malam yang teratur, yang demikian menjadi bukti adanya kekuatan ghaib di luar alam ini dengan teratur dan berhikmat, termasuk bumi dan manusia yang mendiaminya, terapung-apung diangkasa nan luas dengan aman.
Sedangkan kekutan ghaib Yang Maha dahsyat yang menggerakan alam ini menurut ajaran Islam  ialah datangnya dari Allah Yang Maha Agung Yang Maha Sempurna dalam segala-galanya. Allah-lah yang mengatur segala-galanya yang serba berhikmat itu.
Jadi Allah-lah yang menciptaklan dunia dengan segala isinya ini, sebab Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Sempurna, Maha Bijaksana, Maha Perkasa, yang telah menciptakan dunia sesuai dengan Keagungan dan Kebesaran-Nya.
Kalau sekiranya perjalanan alam yang serba teratur atas kehendak manusia, tentulah tidak sehebat itu. sebab manusia adalah mahluk  yang lemah. Terbukti kendaraan yang di pandu menurut kehendak manusia boleh rusak. Kita dengar di sana sini ada juga kadang-kadang kapal udara jatuh, kapal karam di tengah laut, pelanggaran kereta dengan kereta atau dengan motor dan sebagainya,. Semuanya itu menunjukkan kekurangan dan kelemahan manusia. Kenyataanya keadaan serba  teratur, tidak kacau balau satu dengan yang lain. Bumi, bulan, bintang berjalan di tempatnya masing-masing tentu Allah-lah yang mengaturnya. Oleh karana itu dapat kita simpulkan bahwa adanya dunia ini menunjukan adanya Allah, Tuhan semesta alam.

Disebutkan dalam Al-Qur'an

"Katakanlah: Siapakah Tuhan langit dan bumi, jawablah: Allah. Katakanlah: Apakah kamu menjadikan pelindung-pelindung selain Allah sedangkan mereka tidak menguasai kemanfaatan dan kemudharatan terhadap diri mereka sendiri. Katakanlah: Apakah sama orang buta dan orang yang dapat melihat ataukah sama gelap dengan terang. Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya. Sehingga dua ciptaan itu serupa bagi mereka. Katakanlah Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu, dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." (Ar Ra'ad: 16)

Disebutkan di lain ayat

"Sesungguhnya di dalam terjadinya langit dan bumi dang pergantian malam dan siang sesungguhnya bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Ialah orang-orang yang ingat kepada Allah di waktu berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka berfikir tentang terjadinya langit dan bumi, kemudian mereka berkata wahai Tuhan kami Engkau tidak menjadikan ini sia-sia, Mha Suci Engkau maka hindarilah kami dari siksa neraka." (Ali Imraan: 190-191)

Adapun hadis yang memerintahkan agar kita Manusia mengunakan akalnya di antaranya ialah sabda Rasulullah Saw

"Berfikirlah kamu tentang segala  dan janganlah kamu berfikir tentang zat Allah."

Akal Yang Terbatas

Akal manusia terbatas. Oleh karana itu lapangan pemikiran ada batasnya. Manusia tidak dapat memikir sesuatu di luar batas kemampuannya, terutama hal-hal ghaib, misalnya memikirkan hakikat wujud ruh manusia, bila datangnya hari kiamat, malaikat, jin, zat Allah dan sebagainya. Sebab manusia ada batasnya.
Dalam Al-Qura'an disebutkan 

Dan mereka bertanya kepada engkau tentang ruh, jawablah soal ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit." (Al-Isra': 85)

Tegasnya karana ilmu manusia hanya sedikit bila dibandingkan dengan ilmhu Allah, maka tidak dapat mengetahui hakikat wujud ruh manusia, karana soal ruh manusia itu.

Dalam Al-Qur'an disebutkan pula

"Mereka bertanya kepadamu bilakah datangnya kiamat itu, katakanlah sesungguhnya tentang itu di tanagn Tuhanku, tidak ada orang yang dapat menerangkan waktunya kecuali Ia sendiri>" (Al Aa'araf: 187)

Seandainya ada orang yag meramalkan hari Kiamat menurut hari ketentuannya ia sendiri, Adalah sebenarnya suatu ramalan kosong, yang bagi kaum muslimin tidak perlu mempercayainya karana hadis Nabi Saw. Jadi biar ramalan itu untuk beliau sendiri saja, dan kita tidak perlu terpengaruh olehnya.
Dalam hadis muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang bila datangnya hari Kiamat, jawab Baginda:

"Tidaklah yang ditanya tentang hari kiamat itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya (sama-sama tidak mengetahui)."

Begitu juga manusia tidak dapat mengetahui hakikat wujud zat Allah Swt, sebab yang demikian di luar batas kemampuan manusia.

Rasulullah Saw bersabda:
"Berfikir kamu tentang segala sesuatu dan janganlah kamu memikirkan tentang zat Allah."
Dalam Al-Qur'an disebutkan:
"Dia (Allah) tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Al-An,am: 103)

Tegasnya ilmu manusia ada batasnya, tidak dapat menjangkau hal-hal yang ghaib tentang zat Allah Swt.

Makrifat Dengan Jalan Mengenal Nama Allah dan Sifat-Nya

Untuk mengenal Allah Swt dapat juga dicapai dengan jalan mengenal nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
Jadi disamping kita berusaha dengan merenung dan berfikir keadaan alam ciptaan Tuhan dan segala isinya bagi meyakini tentang kebesaran, keagungan dan kekuasaan Allah, maka disamping itu pula kita berusaha pula mengetahui nama Allah akan tertanam iman yang kuat dalam dada, sehingga keimanan kita kepada Allah bukan hanya ikut-ikutan melainkan benar-benar mengenal-Nya dengan ilmu dari kesadaran dan keinsafan.

Allah Tuhan semesta alam mempunyai nama-nama yang terbaik sesuai dengan sifat-sifat Allah Yang Maha Sempurna yang disebut dengan Al Asmaaul Husnaa.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qura'an

"Katakanlah berdoalah kamu kepada Allah atau ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kemu berseru bolehlah karana Dia mempunyai nama-nama yang terbaik." (Al Israa': 110)

Ayat ini menjelaskan bahwa sebagian dari kaum musyrikin berkata: Mengapa Muhammad melarang kita menyekutakan Allah padahal ia memanggil Allah, Ar Rahman dan lain-lainnya. MEreka tidak mengetahui bahwa Allah, Ar Rahman Ar Rahim dan lain-lainnya itu adalah nama-nama yang baik bagi Allah.

Ibnu Jari dan Ibnu Marduwaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya baginda berkata:

"Rasulullah Saw pada suatu hati sholat di mekah, kemudian berdoa kepada Allah taa'la, kemudian mengucapkan dalam doanya itu : YA ALLAH - YA RAHMAN. Maka berkatalah orang-orang musyrik, coba perhatikan shabi ini (Rasulullah Saw) melarang kita menyeru dua Tuhan padahal ia menyeru dua Tuhan pula kemudian turunlah ayat di atas. (Qulid'ullaaha awid'ur rahman)." (Al Israa': 110)

Jadi kita berdoa dengan menyebut Ya Allah atau Ya Rahman ataupun lainya sama saj sebab Allah memiliki nama-nama yang terbaik (Al Asmaaul Husnaa). Boleh menyeru dengan salah satu dari Asmaaul Husnaa itu, sebab tiada lain yang diseru dan dituju adalah Allah Tuhan Yang Maha Esa. Nama-nama yang menunjukan sifat-sifat Allah Yang Maha Agung dan Maha Kuasa itulah yang disebut Al Asmaaul Husnaa.

Dari Kitab Rahasia Di Balik Kata-kata Indah (Al Asma-ul Husnaa)

Al Ustaz Ismail Haji Ali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar