MAMPIR GAN DI LAPAK ANE

Sabtu, 14 Mei 2011

Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Seorang teman bertanya kepada seorang hamba Allah, "Kalau Allah memiliki sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim (Maha Pengasih dan Maha Penyayang) kenapa di dunia ini masih banyak penderitaan, penindasan, dan kemiskinan? Tidaklah Allah Maha Berkuasa atas semua itu dan dapat mengubahnya menjadi kebahagian, kecukupan, dan kekayaan. Di mana letak keadilan Allah Swt.?" Hamba itu berusaha untuk menjawabnya. Awalnya ia bercerita tentang hakikat penciptaan manusia yang Allah Swt. sampaikan di dalam kitab-Nya yang mulia, Al-Qur'an.

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat." (QS Al-Insaan [76] : 2)

Inilah sebenarnya hakikat penciptaan manusia. Allah Swt. hendak menguji setiap mamnusia dengan yang ia alami, baik keadaan menyenangkan ataupun menyusahkan. Bukankah Allah Swt. membekali manusia sesuatu yang amat berharga bagi semua manusia untuk dipakai sebagai alat Survival dalam berbagai situasi hidup yang dialaminya. Allah Swt. telah memberi manusaia "akal". Ayat tersebut menyebutkan, "Karena itu kami jadikan ia mendengar dan melihat." Bukankah akal akan bekerja dengan "input" pendengaran dan penglihatan? Data yang masuk melalui pendengaran dan pengliahatan akan dicerna melalui akal dan kemudian ia kan memutuskan langkah apa yang akan ia ambil untuk menghadapi apa yang sedang dialaminya. Jika apa yang ia lihat dan ia dengar menjadikan ia sedih, ia akan berusaha mengatasi kesedihannya. Ketika ia kekurangan, ia berusaha untuk mencukupi dirinya. demikian seterusnya.

Pada ayat berikutnya Allah berfirman :

"Sesungguhnya Kami telah menunjukan jalan yang lurus; ada yang bersyukur ada pula yang kufur." (QS Al-Insaan [76] :3)

Allah menciptakan hati nurani bagi manusia. Sesuatu yang dipenuhi nilai-nilai ilahiah. Sains modern dengan agak sedikit meraba menyebutnya sebagai god spot (titik tuhan). Sesuatu yang dapat menuntun manusia menuju jalan yang Allah ridhai. Namun, mengapa banyak manusia tersesat walaupun ada hati yang dipenuhi dengan nilai ilahiah? hal itu disebabkan ia tidak dapat menerjemahkan sinyal-sinyal ilahiah tersebut. Ia selalu menutupi hatinya untuk memahami. Ego dirinya lebih kuat dari keinginan untuk menerima kebenaran. Allah Swt. berfirman di dalam Al-Qur,an :

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya? Allah telah mengunci pendengaranya dan hatinya serta meletakan tutup atas pengllihatannya. Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" QS Al-Jatsiyah [45] : 23).

Ketika Allah Swt. menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam, Allah berfirman:

"Maka Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ruh-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (QS Al-Hajr [15] :29).

Dalam tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab menafsirkan bahwa Allah menyuruh malaikat-Nya untuk bersujud kepada ruh-Nya yang ada pada manusia (Adam as), bukan kepada bentuk manusianya. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa manusia itu memiliki nilai  yang sangat tinggi disisi Allah karena ada ruh Allah Swt. di dalam dirinya. Unsur itu tidak ditemukan pada iblis dan jin. Unsur ruh ini yang mengantarkan manusia lebih mampu mengenal Allah Swt., beriman, berbudi luhur, serta berperasaan halus. Dengan demikian Allah telah memilih manusia untuk menjadi khalifahnya di muka bumi ini. Hal yang pada mulanya dipertanyakan oleh para malaikat-Nya. Allah berfirman :

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak mejadikan seorang khalifah di muka bumi, 'Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muak bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahka darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau? 'Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-Baqarah [2] :30).

Dr. Jeffrey Lang, mualaf asal Amerika, dalam bukunya Even Angels Ask yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Bahkan malaikat pun Bertanya, menyimpulkan bahwa manusia diberi oleh Allah sesuatu yang tidak ada pada malaikat, yaitu hati dan akal. Jadi, kenapa Allah seolah-olah membiarkan kemiskinan, penderitaan, dan penindasan itu terjadi adalah karena semua itu tak lain merupakan bagian dari hakikat penciptaan manusia itu sendiri. Allah Swt. ingin mengujinya dan Allah telah memberi manusia "akal" dan "hati" untuk bisa survive dalam kehidupannya. Kemampuan ini tidak dimiliki mahluk lain.

Dalam hal menjawab pertanyaan yamg kedua, "Dimana letak adilnya Allah?" mungkin sang teman lupa hakikat dunia bukan tempat meraih hasil. Setiap salat 17 kali sehari semalam kita membaca, "Maliki yaumiddin" dalam surat Al-Fatihah yang berarti "(Allah) Yang Menguasai hari Pembalasan." Bukankah pembalasan itu kelak di akhirat nanti? Kita baru dapat mengatakan seseorang telah berbuat adil kepada kita jika apa yang kita lakukan telah mendapat balasannya. Bagi seorang pekerja, ia akan mengatakan majikannya seorang yang adil jika si majikan telah membayar upah sesuai dengan beban yang ia kerjakan. Dapatkah kita mengatakan Allah Swt. tidak adil saat di dunia ini, sementara hasil dari apa yang menjadi amal saleh kita belum mendapat balasan yang sempurna? Kalaupun ada, balasan itu baru sedikit sekali dan hanya kita sebut sekedar panjat, karena dunia ini bukanlah tempat menuai hasil yang sempurna.

Allah mengibaratkan hubungan dengan hamba-Nya seperti hubungan jual beli (tijarah). Hal ini termaktub dalam QS Ash-Shaff (61) ayat 10. Dalam hal ini, Allah 'Azza wa Jalla tidak berjual-beli tunai karena jual-beli tidak memerlukan saling percaya. Jika dua orang melakukan jual beli tunai, maka tidak perlu ada kepercayaan antara si penjual dengan si pembeli asal tercapai kesepakatan mengenai mutu barang dan harga. Tapi jika si pembeli ingin mencicilnya, atau si penjual memerlukan panjar  (DP), maka diperlukan saling percaya dan saling menghormati. Saling percaya inilah yang disebut keimanan kepada Allah Swt. saat ini, di dunia, kita diperintahkan untuk mnaati Allah Swt. dan sabar serta ikhlas dalam menaatinya. Jika tidak ada keimanan dalam hati kita, dapatkah kita melakukannya?

Dapat dipastikan pula, keimanan kita secara perlahan akan memudar karena segala bentuk ibadah kita hanya mengharapkan balasannya di dunia ini saja. Keikhlasan untuk berbuaut karena Allah semata luntur dan tak terasa manisnya lagi. Takwa hanya tinggal nama. Kita menjadi manusia-manusia yang hanya mengukur segalanya dari balasan yang diperoleh di dunia ini dan lebih bersifat materi. Wallahu a'lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar