MAMPIR GAN DI LAPAK ANE

Minggu, 29 Mei 2011

Doa yang Selalu Diijabah

"Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al-Baqarah [2] : 186)

Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari kita banya berharap pada mahluk melebihii harapan kita kepada Allah Swt. Contohnya adalah ketika kita berharap seorang akan menolong kita di saat kita dalam kesempitan. Ketika kita telah menyampaikan permintaan tolong dan orang tersebut meminta kita menunggu. Saat itulah terlintas segala pikiran dalam benak kita, bagaiman caranya agar orang tersebut cepat menolong kita. Kalau kita berpikir positif, tidaklah sesorang pun mampu memengaruhi orang lain selain Allah Swt semata. Allah Maha Berkuasa untuk membolak-balikan hati seseorang. Hanya Allah Swt semata yang dapat menunjuki hati hamba-Nya dengan hidayah-Nya agar membantu hamba-Nya yang lain. Allah yang Maha Berkehendak menentukan sesuatu, karena segala apa yang terjadi tunduk pada taldir-Nya. demikian kehidupan di bumi ini berjalan.
Hal yang lain juga sering terjadi dalam kehidupan kita adalah bertanya kepada peramal atau seseorang kita adalah bertanya kepada peramal atau seseoranng yang kita sebut "Orang pintar" tentang nasib kita. Kenapa kita harus percaya kepada ramalannya? Kita boleh mengatakan bahwa ia bisa melihat alam gaib. Tai pernahkah kita bertanya, kalau ia memang mengetahui hal gaib yang akan terjadi, pasti ia sudah melihat takdir terbaik untuk dirinya sendiri? Tapi kenyataannya tidak begitu. Ia tetap menjalankan profesinya sebagai peramal dan tidak dapat mengubah takdirnya sendiri.
Pada ayat di atas, Allah Swt mengisyaratkan kepada kita bahwa diijabhnya sebuah doa adalah berdasarkan :
  1. Permohonan yang tulus dan ikhlas kepada-Nya
  2. Memenuhi segala perintah Allah dan
  3. Beriman kepada-Nya
Dengan memenuhi ketiga kriteria tersebut, Allah akan memilihkan sesuatu yang terbaik dari apa yang dimohonkan oleh hamba-Nya. Jika Allah telah memilihkan sesuatu, pastilah itu adalah pilihan terbaik bagi hamba-Nya.
Untuk memperjelas ayat di atas, ada beberapa riwayat yang menguatkannya. Berikut riwayat-riwayat yang dimaksud
Rasulullah Saw bersabda, 

"Seseorang mukmin di muka bumi yang berdoa pasti akan dikabulkan asalkan tidak meminta sesuatu yang buruk (dosa/kenudhratan) atau memutuskan hubungan silaturrahim."

Para sahabat kemudian berkata, "Kalau begitu kami akan memperbanyak doa." Rasulullah menjawab, "Karunia Allah lebih banyak lagi." (HR At-Tirmidzi)

"Rasulullah Saw bersabda, "Doa seseorang Muslim selalu akan diterima selama ia tidak terburu-buru." Sahabat bertanya, "Bagaimana (berdoa) yang terburu-buru itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab "Seseorang yang berkata, aku telah berdoa, tapi juga tidak dikabulkan." (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw bersabda, "Jangan suka berdoa yang tidak baik untuk dirimu atau anak-anakmu atau harta milikmu. Jangan sampai ketika engkau berdoa (yang buruk), Allah langsung mengabulkan-Nya." (HR Muslim)

Hadits-hadits tersebut mengingatkan kita bahwa doa pastilah dikabulkan asal tidak meminta sesuatu yang buruk (mudharat), memutuskantali silaturrahim, atau tergesa-gesa minta segera dikabulkan, Sebagai hamba Allah yang lemah, kita tidak pernah tahu hal-hal yang gaib. Oleh sebab itu, saat meminta belum tentu kita meminta sesuatu yang baik bagi kita. Bahkan tidak mustahil apa yang kita minta justru sesuatu yang akan menyebabkan kenudharatan dan keburukan. Kita mungkin merasa doa kita tidak dikabulkan oleh Allah Swt padahal Allah Swt telah memilihkan untuk kita yang lebih baik dari apa yang kita minta dan menghindarkan kita dari kemudharatan.
Ada kisah yang patut pelajaran bagi kita. Ketika Nabi Nuh as meminta agar Allah menyelamatkan keluarganya dari bencana banjir yang menimpa kaumnya, tapi Allah malah membiarkan anak Nabi Nuh as tertimpa azab itu. Kisah ini dapat kita baca dalam QS Hud [11] : 45-47,

"Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku (yang Engkau janjikan akan Engkau selamatkan), dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Enngkau adalah hakim yang seadil-adilnya." Allah berfirman, "Hai Nuh, sesunguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)-nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang jahil (tidak berpengetahuan)". Nuh berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekat)-nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampunan kepadakku dan (tidak) merhmatiku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi."

Kisah itu sungguh kluar biasa. Seorang Nabi memohon kepada Allah agar anaknya diselamatkan dari bencana. Menurut ukuran manusia, hal itu wajar dilakukan. Namun menurut Allah Swt tidak demikian. Di balik itu, salah satu hikmah yang tersimpan adalah agar kita ketahui hakekatnya. walaupun kita bermaksud baik dengan permohonan itu, tapi belum tentu baik di sisi Allah Swt.
Dalam sebuah hadis qudsi yang pernah Rasululah Saw sampaikan di hadapan para sahabat-sahabatnya. Rasulullah bersabda, "Di hari akhirat nanti, ketika seorang hamba telah ditentukan balasan kebaikan dan balasan keburukan yang pernah ia lakukan ketika di dunia, Allah 'Azza wa Jalla masih saja mendatangkan balasan kebaikan amalan yang pernah dibuatnya ketika dia hidup di dunia. Hamba itu merasa tidak pernah melakukannya dan berkata, "Ya Allah, balasan apakah yang Engkau berikan kepadaku ini? Semua amalku ketika di dunia telah Engkau balas dengan sempurna. Aku merasa tidak pernah melakukannya ketika hidup di dunia." Allah menjawab, "Wahai hamba-Ku, inilah balasan dari doa yang engkau mohonkan kepada-Ku  yang tidak Aku kabulkan di dunia. Sebab, kalau Aku kabulkan, hal itu justru akan membawa kemudharatan kepadamu." Hamba itu kemudian berkata, "Mahasuci Engkau ya Allah yang telah membalas amalanku dengan sempurna." (HR Muslim)


M. Yaser Fachri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar