MAMPIR GAN DI LAPAK ANE

Selasa, 17 Mei 2011

Kehilangan Seseorang yang Dicintai

Di saat seorang sahabat Rasulullah Saw kehilangan salah seorang anaknya, Nabi menyampaikan sebuah hadis qudsi di tengah kerumunan sahabat-sahabatnya, "Ketahuilah wahai sahabat-sahabat ku, Allah bertanya keopada malaikat-Nya, "Sudahkah engkau cabut ruh hamba-Ku?" "Sudah ya Allah," jawab malaikat. Kemudian Allah 'Azza wa Jalla bertanya, "Sudahkah kau cabut ruh buah hatinya?" Malaikat menjawab, "Sudah ya Allah," Allah 'Azza wa Jallla bertanya kembali, "Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku itu?" Malaikat menjawab, "Dia memuji Engkau ya Allah dan ber-istirja," Allah 'Azza wa Jalla kemudian berkata, "Buatkan baginya rumah yang indah di surga dan jadikan rumah itu selalu dipuji oleh siapa pun yang melihatnya kelak (baitul hamd)." (HR Ahmad)

Kehilangan orang yang sangat disayangi adalah sebuah musibah yang sangat besar. Seseorang yang menerima musibah wajib bersabar dan ber-istirja' yaitu mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kata-kata ini menyiratkan kesadaran bahwa semua yang ada di muka bumi ini, bahkan di alam semesta, adalah milik Allah Swt tiada yang kekal di alam ini selain Allah semata. Bersamaan dengan itu, berharaplah pahala dari sisi Allah dan ganti yang lebih baik dari apa yang pernah Dia berikan kepada kita. Rasulullah mengajarkan sebuah doa yang sangat indah bagi kita yang di timpa musibah.

"Ya Allah, jadikan hatiku ridha untuk menerima segala ketetapan-Mu dan berkahilah segala apa yang Engkau ditakdikan bagiku agar aku tidak ingin mempercepat apa yang Engkau lambatkan bagiku dan agar aku tidak ingin memperlambat apa yang Engkau cepatkan bagiku." (HR Ibnu Sunni)

Dalam suatu kesempatan, Rasulullah pernah mengabarkan kepada para sahabatnya, "Jibril datang kepadaku dan mengatakan, "wahai Muhammad hiduplah semaumu, tapi sungguh engkau akna mati, cintailah seseorang sesukamu, tapi sungguh engkau akan berpisah darinya, dan berbuatlah sesukamu, tapi sungguh engkau akan diminta pertanggungjawabnya kelak." Ketahuilah bahwa kemuliaan seseorang terletak pada salat malamnya dan kewibawaannya terletak pada sikap merasa cukup dari bantuan orang lain." (HR Bukhari dan Muslim)

Kabar Jibril itu sungguh amat penting bagi Rasulullah Saw. Beliau seolah tersadar, tidak lama lagi seorang yang ia cintai akan berpisah dengannya. Dan itu benar-benar terjadi ketika Khadijah r.a. istri yang begitu ia cintai, wafat. Allah 'Azza wa Jalla ingin mengingatkan Nabi bahwa derajat cinta kepada sesama mahluk tidak sebanding dengan cinta kepada sang Pencipta Allah 'Azza wa Jalla.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar